(Taiwan, ROC) -- Selama masa liburan Tahun Baru Imlek selain berkumpul dan makan bersama, juga kerap kali menghidangkan berbagai ragam makanan secara berlimpah. Karena penyajian yang berlebih sehingga mengakibatkan pemborosan makanan, bahkan meningkatkan limbah sampah. Agar tetap dapat menjaga lingkungan, Ditjen Lingkungan mengimbau seluruh masyarakat untuk pengurangan limbah dapur dimulai dari keluarga, untuk persiapan makanan berprinsip pada “memasak dengan porsi yang diperlukan, begitu pula dengan penyajiannya, sajikan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, selain itu juga mematuhi pemilahan barang-barang daur ulang, bersama-sama memberikan kehangatan pada bumi kita ini.
Berdasarkan urutan untuk pengurangan pemborosan makanan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO), pilihan yang paling baik adalah mengurangi jumlah makanan yang berarti mengurangi sisa makanan atau menyumbangkan sisa makanan ke bank produk makanan, mencegah pemborosan makanan. Yang kedua adalah menggunakan kembali sisa makanan yang tidak dimakan, seperti sisa dapur, dalam bentuk aslinya sebagai pakan ternak atau untuk digunakan kembali dalam industri. Yang lainnya adalah menggunakan fermentasi anaerobik untuk memulihkan energi atau kompos; dengan penguburan atau pembakaran.
Ditjen Lingkungan Hidup dan pemerintah daerah terus bekerja keras dalam upaya memperkuat klasifikasi dan daur ulang sisa makanan serta mendorong diversifikasi penggunaan kembali sisa makanan sesuai dengan kondisi setempat, di mana 48,6% di antaranya dibuat kompos, 41,3% digunakan sebagai pakan (peternakan babi), dan 8,7 % digunakan sebagai energi (fermentasi anaerobik untuk menghasilkan listrik), dan pengolahan lainnya (seperti lalat tentara hitam) sebanyak 1,4%.