(Taiwan, ROC) -- Menurut statistik Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW), selama 10 tahun terakhir, setiap tahun terdapat sekitar 8.000 – 10.000 korban kekerasan seksual, dengan 54% di antaranya adalah anak-anak di bawah umur. Untuk memahami penyebab terjadinya kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur dan mencari cara agar negara dapat mencegah dan mengidentifikasi kekerasan seksual terhadap anak-anak di masa mendatang, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Taiwan didirikan pada tahun 2020. Setelahnya, investigasi sistematis pertama adalah “Investigasi Sistematis Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Remaja di Sekolah dan Lembaga Penempatan”. Pada akhirnya, 63 korban kekerasan seksual dan 11 orang terdekat korban berhasil diwawancara, menguak metode pelecehan dan rekomendasi kebijakan khusus, dengan harapan dapat membangkitkan empati pemerintah dan masyarakat umum untuk bekerja sama memperkuat perlindungan anak.
Pada tanggal 8 Januari, Komnas HAM secara resmi merilis “Suara Anda Menanam Benih Perubahan – Laporan Khusus Investigasi Sistematis Pelecehan Seksual Anak di Sekolah dan Lembaga Penempatan”, serta merilisi video penjelasan dengan korban anonim (tidak disebutkan identitasnya). Pernyataan tersebut mengejutkan sekaligus menyayat hati dengan 6 jenis kekerasan guru yang sering terjadi terhadap para murid-muridnya.
Anggota komite pengawas Chang Ju-fang (張菊芳) menunjukkan, bahwa “kontrol otoriter menggunakan permen dan cambuk” merupakan bentuk kekerasan dan pelecehan seksual dari guru terhadap muridnya.
Berdasarkan ringkasan dan analisis laporan khusus tersebut, terdapat 6 jenis kekerasan yang umum terjadi.
Chang Ju-fang menunjukkan, bahwa pelecehan seksual pada anak di bawah umur merupakan masalah hak asasi manusia yang besar. Untuk menghindari kerugian sekunder bagi korban, survei ini secara khusus memilih psikolog konseling dan psikolog klinis, pekerja sosial, serta konselor sekolah yang memiliki kemampuan sebagai pewawancara profesional, dengan pelatihan wawancara profesional. Chang Ju-fang secara khusus mengucapkan terima kasih kepada 74 orang yang bersedia untuk diwawancarai, karena melalui pernyataan mereka, lebih banyak orang yang dapat memahami, bahwa pelecehan seksual anak bukanlah kasus yang terisolasi, tapi masalah komprehensif dan structural. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat dapat menghadapi masalah tersebut, bekerja sama untuk menemukan solusinya dan mencegah, serta mengendalikan pelecehan seksual terhadap anak-anak dan remaja.