(Taiwan, ROC) – Wabah campak lokal di Taiwan telah menyebabkan kepanikan di kalangan masyarakat, dengan pesan yang menyebar seperti “campak akan menjadi pandemi” dan “vaksinasi perlu dilakukan sesegera mungkin.” Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) menekankan pada 9 Januari, bahwa tingkat cakupan vaksin domestik dan rasio infeksi alami tinggi, serta kemungkinan pandemi campak rendah. Dokter juga menyampaikan, mereka yang belum menyelesaikan dua dosis vaksin campak, disarankan untuk mendapatkan suntikan kedua. Sedangkan bagi mereka yang terinfeksi secara alami atau telah menerima dua dosis vaksin saat masih anak-anak, tidak perlu khawatir karena tidak perlu divaksinasi lagi.
Wabah klaster campak telah terjadi di Taiwan. Sejauh ini, ada 16 kasus yang telah dikonfirmasi terkait klaster tersebut dengan lebih dari 3.000 kontak yang telah diidentifikasi, jumlah tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Karena banyaknya kontak dan riwayat aktivitas di wilayah utara, tengah, dan selatan, beberapa orang menjadi panik. Media sosial juga mulai menyebarkan informasi mengenai wabah campak besar-besaran dan perlunya vaksinasi campak penguat. Namun, para ahli menyampaikan, bahwa tingkat cakupan vaksin lokal tinggi dan kemungkinan terjadinya wabah epidemi rendah. CDC juga merekomendasikan masyarakat umum yang tidak berisiko untuk tidak perlu divaksinasi.
Dalam sebuah wawancara tanggal 9 Januari, juru bicara CDC Tseng Shu-hui (曾淑慧) mengutarakan, bahwa Taiwan memiliki tingkat vaksinasi MMR yang tinggi, dan menurut survei serologi campak domestik, sebagian besar orang yang lahir sebelum tahun 1981 memiliki antibodi campak karena infeksi alami, sehingga kemungkinan tertular campak pandemi tidak tinggi. Ia mengatakan, “karena tingkat vaksinasi campak di negara kita cukup tinggi, tingkat vaksinasi dosis pertama 98,7%, dan tingkat vaksinasi dosis kedua 97,4%, maka kekebalan dan perlindungan campak bagi seluruh masyarakat kita sudah cukup baik, sehingga risiko terhadap seluruh komunitas relatif rendah. "
Dokter spesialis penyakit menular anak dari Universitas Nasional Taiwan (NTU), Huang Li-min (黃立民) dalam sebuah wawancara mengemukakan, bahwa penyakit campak terutama ditularkan melalui udara dan sulit dicegah bahkan dengan masker. Gejala awal infeksi campak mirip dengan gejala flu, yaitu demam, batuk, dan pilek. Yang lebih istimewa adalah akan terjadi peradangan konjungtiva yang cukup jelas. Sekitar 3 hari setelah infeksi, akan ada ruam di seluruh tubuh dan merasa lelah. Kebanyakan orang akan pulih perlahan setelah seminggu. Beberapa orang akan mengalami komplikasi, termasuk otitis media, ensefalitis, atau pneumonia. Angka kematiannya tidak tinggi.
Mengenai perlu tidaknya vaksinasi, Huang Limin mengatakan bahwa kebanyakan orang yang berusia 60-an dan 70-an tahun telah terinfeksi campak secara alami saat mereka masih muda, dan kekebalan mereka dapat bertahan sangat lama. Sedangkan untuk orang yang lebih muda, jika mereka telah menerima dua dosis vaksin MMR saat mereka masih muda, perlindungannya bisa bertahan sekitar 30 tahun. Sebagian besar orang yang terinfeksi saat ini adalah mereka yang melewatkan dosis kedua, jadi disarankan hanya mereka yang belum menyelesaikan dua dosis vaksin yang perlu divaksinasi.
Huang Li-min menekankan, bahwa tingkat vaksinasi MMR di Taiwan tinggi, dengan hampir 90% orang telah menyelesaikan dua dosis. Daya tahan secara keseluruhan sudah cukup, dan tidak mudah terjadi epidemi di Taiwan. Saat ini semua kasus bersifat sporadis dan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir.
Tseng Shu-hui mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru mendapatkan vaksinasi. Ia menegaskan bahwa selain anak-anak berusia 1 dan 5 tahun yang harus menerima vaksin MMR secara rutin, CDC merekomendasikan dua kelompok orang yang dapat divaksinasi dengan biaya sendiri. Kelompok pertama adalah tenaga kesehatan yang lahir setelah tahun 1981 (termasuk tahun tersebut) yang tidak memiliki surat keterangan antibody campak positif dalam 5 tahun terakhir dan lamanya waktu sejak dosis terakhir vaksinasi MMR lebih dari 15 tahun. Kelompok kedua adalah orang dewasa yang lahir setelah 1981, yang akan bepergian ke area epidemi campak, seperti Vietnam, India, dan Kamboja, dan perlu divaksinasi setelah evaluasi dari dokter. Sementara Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Daratan Tiongkok bukanlah area epidemi campak.