(Taiwan, ROC) --- Pendaftaran untuk jenjang pendidikan pascasarjana akan segera dimulai, apakah seseorang sebaiknya melanjutkan studi mereka atau tidak?
Sebuah hasil survei yang dirilis oleh Bank Tenaga Kerja pada Rabu hari ini (13/9) memperlihatkan bahwa gaji awal lulusan magister (pascasarjana) biasanya lebih tinggi daripada lulusan sarjana.
Perbedaan yang paling mencolok dapat terlihat pada bidang manajemen bisnis, khususnya untuk posisi manajerial, di mana gaji bulanan median untuk lulusan magister lebih tinggi sekitar NT$ 20.000 dibandingkan lulusan sarjana.
Bank Tenaga Kerja 104 menganalisis sampel sebanyak 120 ribu lulusan S1 dan S2, merilis laporan perihal "Perusahaan Merekrut Kelompok Unggulan Lulusan S2".
Laporan tersebut memperlihatkan, dengan gelar magister (S2), maka nilai median dari jumlah gaji awal di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta bidang teknik dapat mencapai NT$ 52.500.
Gaji awal di sektor teknologi informasi dan komunikasi, serta Digital IC Design Engineer adalah yang tertinggi, yakni mencapai NT$ 73.500.
Sedangkan untuk bidang teknik dan Semiconductor Equipment Engineer memiliki gaji tertinggi sebesar NT$ 60.000.
Jika membandingkan perbedaan gaji antara lulusan S1 dengan S2, maka untuk sektor teknologi informasi dan komunikasi, serta bidang teknik, memperlihatkan kesenjangan berkisar NT$ 12.500 hingga NTS 19.500.
Meskipun di bidang manajemen bisnis, perbedaan gaji antara lulusan S1 dengan S2 lebih kecil, yaitu sekitar NT$ 5.000 hingga NT$ 8.050, tetapi untuk posisi cadangan manajerial, lulusan S2 memiliki gaji bulanan yang lebih tinggi hingga NT$ 20.350.
Kepala Divisi Karier di Bank Tenaga Kerja 104, Wang Rong-chun (王榮春) menganalisis bahwa banyak lowongan pekerjaan bergaji tinggi di bidang teknologi informasi dan teknik, mengharuskan pelamar memiliki gelar S2 sebagai prasyarat minimum.
Sementara di bidang manajemen bisnis, banyak lowongan pekerjaan yang meminta gelar S1 sebagai syarat minimum.
Wang Rong-chun juga menekankan agar jangan sekali-kali melanjutkan studi ke pascasarjana hanya karena "tidak tahu harus melakukan apa". Karena, orang-orang seperti ini biasanya akan menghabiskan waktu yang lama di pascasarjana.
Wang Rong-chun mengatakan, “Sebenarnya masih ada banyak mahasiswa yang tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan, jadi mereka berpikir untuk melanjutkan studi di pascasarjana selama dua tahun lagi, menunda tekanan untuk menghadapi dunia kerja. Menghadapi mahasiswa magister seperti ini bisa menjadi masalah, karena mereka tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan.”