(Taiwan, ROC) --- Media Australia, Australian Broadcasting Corporation (ABC) mewartakan, transaksi perdagangan komoditas lobster antara Australia dengan Tiongkok akan kembali dilanjutkan, setelah lebih dari dua tahun larangan ekspor-impor diberlakukan. Transaksi yang akan segera dipulihkan tersebut memiliki nilai yang cukup fantastis, yakni mencapai AUD 750 juta (sekitar NT$ 15,7 miliar).
Kepada media ABC, Menteri Perdagangan Australia, Don Farrel menyampaikan, permohonan lisensi yang diajukan oleh salah satu eksportir setempat kepada pihak Tiongkok ternyata tidak langsung ditolak. Pada awal pekan ini, Menteri Don Farrel sudah menggelar pembicaraan dengan Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wen-tao (王文濤), melalui sambungan video.
Setelah itu, keduanya pun sepakat untuk bertemu di Beijing, guna menggelar diskusi lebih lanjut.
Media ABC menuturkan, ini akan menjadi pertemuan pertama antara kedua belah pihak, semenjak larangan ekspor impor yang secara informal diberlakukan pada tahun 2020.
Kepada media Reuters, Menteri Don Farrel mengatakan, “(Australia) akan menyambut baik setiap langkah untuk memudarkan hambatan dalam sektor perdagangan.”
Ketika pembicaraan antara pemimpin Australia dengan Tiongkok dimulai, maka ketegangan hubungan diplomatik antar keduanya pun perlahan-lahan mencair. Setelah batu bara, lobster Australia diharapkan akan menjadi komoditas kedua yang dicabut sanksinya oleh otoritas Tiongkok
Juru bicara Geraldton Fishermen's Co-operative menyampaikan, dirinya belum melihat adanya penyesuaian kebijakan bea cukai dan perdagangan milik Tiongkok.
Geraldton Fishermen's Co-operative adalah salah satu perusahaan “lobster batu” terbesar di Australia.
Media berbahasa Inggris asal Hong Kong, South China Morning Post mewartakan, semenjak Januari tahun ini, otoritas Beijing tengah mendiskusikan untuk kembali memulihkan perizinan ekspor terhadap produk lobster asal Australia.