(Taiwan, ROC) Kementerian Pertanian pada tanggal 20 Mei 2025 mengatakan, diprakirakan pada akhir bulan Mei, Taiwan akan diakui oleh Organisasi Kesehatan Hewan (WOAH) negara bebas wabah Classical Swine Fever, menjadi satu-stunya kawasan bebas 3 penyakit utama yang menyerang ternak babi diantaranya Classical Swine Fever, penyakit mulut dan kaki dan Demam Babi Afrika.
Kementerian Pertanian mengatakan, pada tanggal 31 Oktober tahun lalu, WOAH secara resmi mencantumkan nama Taiwan ke dalam daftar negara-negara yang dinyatakan bebas dari Classical Swine Fever, pada Februari tahun ini, komite ilmu sains WOAH memberikan pernyataan “setuju” terhadap pengakuan Taiwan sebagai negara bebas Classical Swine Fever, dijadwalkan bulan Mei ini mendapatkan pengakuan sebagai negara bebas Classical Swine Fever, saat bersamaan Taiwan memimpin di Asia sebagai kawasan yang bebas dari 3 penyakit utama yang menyerang ternak babi.
Kementerian Pertanian mengatakan, setelah peninjauan komite ilmu sains WOAH diloloskan, dilanjutkan dengan prosedur penilaian dan pemberitahuan selama 60 hari, apabila dari anggota komite tidak mempermasalahkan, maka putusan ini akan secara resmi diloloskan oleh WOAH pada akhir bulan Mei, hal ini menunjukkan hasil kinerja karantina dan pencegahan penyakit hewan di Taiwan yang mendapat pengakuan internasional, akan sangat bermakna sekali untuk perkembangan produk daging babi di pasar internasional.
Kementerian Pertanian mengatakan, Classical Swine Fever adalah jenis virus penyakit yang sangat menular dan mematikan, serta menjadi ancaman besar bagi industri peternakan babi. Sejak tahun 2005, setelah Taiwan memusnahkan 1 kasus Demam Babi terakhir, diikuti dengan menggalakkan berbagai langkah program pencegahan, melalui vaksinasi, pelaporan dan pemantauan keamanan hewan, dan berhasil mengendalikan wabah.
Kementerian Pertanian mengatakan, Juli 2023 secara keseluruhan menghentikan vaksinasi terhadap demam babi di Taiwan, membangun mekanisme pengawasan yang ketat, pihaknya akan terus memantau pada di lokal Taiwan masih ada virus demam babi Afrika, melalui inspeksi langsung di tempat, memberikan penyuluhan dan pendidikan serta persiapan cadangan vaksin darurat, untuk menstabilkan promosi pencegahan wabah demam babi.
Saat bersamaan, Taiwan juga aktif meningkatkan pertahanan karantina di perbatasan dan bekerja sama dengan instansi terkait, selain melakukan pemeriksaan ketat terhadap bagasi penumpang, paket dan pengiriman barang ekspres, serta meningkatkan inspeksi penyelundupan, mensosialisasikan pencegahan demam babi Afrika kepada masyarakat melalui berbagai kanal.
Selain itu, sumber negara penghasil produk daging babi dan spesifikasi babi impor perlu mendapat pengakuan dari Taiwan, berasal dari kawasan bebas demam babi Afrika, sedangkan babi hidup tidak diperkenankan divaksin demam babi Afrika, selama masa karantina perlu menjalani pemeriksaan, setelah terdeteksi negatif baru dilepas, hal ini bertujuan untuk memperketat penularan penyakit dari luar negeri.