(Taiwan, ROC) -- Dewan Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) baru-baru ini merilis “Buku Putih Keamanan Nasional Tiongkok di Era Baru”, yang kembali menegaskan prinsip “Satu Tiongkok” dan sikap penolakan terhadap kemerdekaan Taiwan.
Wakil Direktur Biro Keamanan Nasional (NSB) Taiwan, Huang Ming-chao (黃明昭) mengungkapkan bahwa bagian yang membahas Taiwan hanya sekitar 300 kata dan tidak mengandung hal baru secara substansial.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Urusan Daratan Tiongkok (MAC), Shen You-zhong (沈有忠) memperkirakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) berupaya memanfaatkan perang tarif melalui diplomasi multilateral dan strategi bahasa untuk membangun citra sebagai “mitra yang dapat dipercaya”, sehingga Taiwan harus sangat waspada.
Buku Putih Keamanan Nasional Tiongkok di Era Baru yang dirilis oleh Dewan Negara RRT tersebut menyebutkan bahwa penyatuan (dengan Taiwan) adalah bagian dari kepentingan inti negara. Dalam bagian yang berkaitan dengan Taiwan, ditegaskan kembali prinsip “Satu Tiongkok” dan “Konsensus 1992”, memperkuat dasar untuk penyatuan damai, serta menegaskan kembali penolakan terhadap “kemerdekaan Taiwan” dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer.
Terkait perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, setelah perundingan di Jenewa berakhir, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam konferensi pers di Gedung Putih bahwa proses negosiasi berjalan lancar, menguntungkan kedua belah pihak, dan “sangat bermanfaat bagi penyatuan dan perdamaian”.
Menanggapi hal itu, Shen You-zhong menyebutkan bahwa meskipun Trump menyebut kata-kata seperti “unification” (penyatuan) dan “peace” (perdamaian) dalam pernyataan publik, pihak Taiwan menilai hal itu tidak perlu ditafsirkan secara berlebihan.