(Taiwan, ROC) -- Negara-negara Arab di Teluk Persia semakin khawatir jika Israel atau Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas nuklir Iran yang terletak di seberang Teluk Persia, hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran nuklir atau serangan balasan. Untuk mencegah terjadinya krisis, Oman sedang mempersiapkan 33 tempat perlindungan darurat dan menguji sistem sirene peringatan di seluruh negeri. Media di berbagai negara Timur Tengah juga mulai merilis panduan tentang cara dalam menghadapi kebocoran radiasi.
Menurut pemberitaan CNN, peneliti Program Timur Tengah di Harvard Kennedy School, Elham Fakhro, menyatakan bahwa kekhawatiran akan kemungkinan serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran terutama berkaitan dengan pencemaran lingkungan, khususnya di wilayah perairan yang digunakan bersama.
Fakhro menambahkan bahwa kekhawatiran lainnya terrmasuk kemungkinan pihak Iran yang melakukan aksi balasan dengan menyerang fasilitas-fasilitas militer AS yang berada di negara-negara Teluk, yang dapat membahayakan warga sipil serta memperpanjang penutupan wilayah udara.
Meskipun hubungan antara Iran dan negara-negara tetangga Arab telah membaik, Iran secara tersirat telah memperingatkan bahwa jika diserang oleh militer AS, maka mereka akan menargetkan kepentingan AS di kawasan sekitarnya. Misalnya, markas Komando Pusat Angkatan Laut AS yang berada di Bahrain bisa menjadi salah satu target pihaknya.
Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pada Senin (16/6) mengaktifkan pusat manajemen darurat yang berlokasi di Kuwait untuk memastikan “semua langkah pencegahan yang diperlukan diambil dalam aspek lingkungan dan radiasi”. Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UAE), Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan menyatakan bahwa tindakan gegabah dan salah perhitungan bisa meluas ke luar perbatasan Iran dan Israel. Juru Bicara Kemenlu Qatar juga memperingatkan bahwa serangan yang sembrono dapat berdampak pada perairan negara-negara Teluk.
Sekitar 60 juta penduduk negara-negara Teluk Persia bergantung pada air hasil desalinasi dari Teluk Persia untuk kebutuhan minum, mencuci, dan sumber air lainnya. Jika pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang terletak di Bushehr diserang, pencemaran yang terjadi dapat menimbulkan kosekuensi lingkungan serius terhadap sumber air penting tersebut.
Jurnalis AS Tucker Carlson pada bulan Maret menanyakan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Hamad Al Thani, apa yang akan terjadi jika pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr dihancurkan. Mohammed menjawab, “Air akan sepenuhnya tercemar… tanpa air, tidak ada ikan, tidak ada apa-apa, bahkan tidak ada kehidupan.”
Mohammed menyatakan bahwa Qatar sebelumnya pernah melakukan simulasi risiko untuk menganalisis dampak kerusakan pembangkit nuklir Iran terhadap negaranya. Dirinya menjelaskan, air yang digunakan masyarakat Qatar berasal dari proses desalinasi air laut, karena negara tersebut tidak memiliki sungai maupun cadangan air alami. Dalam kondisi darurat, Qatar bisa kehabisan air dalam hanya waktu tiga hari. Setelah itu, Qatar membangun waduk-waduk besar untuk melindungi keamanan air nasionalnya.