(Taiwan, ROC) — Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa pesawat pengebom B-2 milik militer AS turut ambil bagian dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Reuters sebelumnya pada Sabtu (21/6) melaporkan pergerakan pesawat pengebom B-2, yang dikenal mampu membawa bom berukuran besar yang dianggap para ahli cocok untuk menyerang target semacam itu.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN mengutip pernyataan seorang pejabat Israel yang mengatakan bahwa Israel “bekerja sama sepenuhnya” dengan Washington dalam operasi serangan militer AS kali ini.
Menurut pemberitaan AFP, seorang pejabat senior Gedung Putih pada Sabtu (21/6) menyatakan bahwa setelah militer AS melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, Presiden Donald Trump melakukan percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Pejabat anonim tersebut mengatakan kepada AFP bahwa AS “telah terlebih dahulu memberi tahu Israel sebelum melancarkan serangan,” yang menunjukkan bahwa Washington telah bergabung dalam serangan udara Israel terhadap Iran.
Media Iran pada hari ini (22/6) melaporkan bahwa Trump menyatakan setelah serangan udara dilakukan oleh militer AS terhadap fasilitas-fasilitas tersebut, beberapa bagian dari fasilitas pengayaan uranium Fordo, serta fasilitas nuklir di Isfahan dan Natanz, menjadi sasaran serangan.
Kantor berita Tasnim Iran mengutip pernyataan juru bicara departemen manajemen krisis Provinsi Qom, Morteza Heydari yang mengatakan, “Beberapa jam yang lalu, sistem pertahanan udara Provinsi Qom diaktifkan dan setelah mendeteksi target musuh, sebagian area fasilitas nuklir Fordo diserang oleh musuh melalui serangan udara.”
Sementara itu, kantor berita Fars Iran melaporkan “Sistem pertahanan udara di Isfahan dan Kashan diaktifkan untuk menghadapi target musuh, dan terdengar beberapa ledakan.”