(Taiwan, ROC) – Penjaga pantai dari Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Filipina baru-baru ini menggelar latihan gabungan di perairan lepas pantai Kagoshima. Dilansir dari pemberitaan Philippine Daily Inquirer, para pakar menilai jika latihan tersebut bertujuan untuk melawan ekspansi agresif Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di kawasan melalui kerangka kerja “minilateral” atau kerja sama multilateral skala kecil.
Penjaga pantai AS dan Filipina bersama dengan Penjaga Pantai Jepang pada pekan lalu menggelar latihan bersama di lepas pantai Kagoshima. Latihan tersebut mencakup komunikasi, simulasi tabrakan kapal, penanggulangan kebakaran, serta pencarian dan penyelamatan orang yang jatuh ke laut. Di kapal patrol BRP Teresa Magbanua milik Penjaga Pantai Filipina saja, terdapat lebih dari 100 personel yang terlibat.
Situs Philippine Daily Inquirer pada Rabu (25/6) melaporkan, Direktur Institute for Development and Security Cooperation (IDSC) Filipina, Chester Cabalza menyatakan bahwa latihan gabungan ini dapat dianggap sebagai bagian dari langkah minilateral untuk menegakkan tatanan hukum di kawasan rantai pulau pertama.
Chester Cabalza menyebutkan bahwa latihan ini merupakan wujud kekuatan kerja sama minilateral.
Pemberitaan tersebut juga menyoroti bahwa diplomasi minilateral umumnya berfokus pada isu-isu dengan kepentingan bersama. Dalam hal ini, baik Filipina maupun Jepang memiliki sengketa kedaulatan maritim dengan RRT.
Masih menurut Philippine Daily Inquirer, peneliti senior dari lembaha think tank East-West Center di Hawaii, Denny Roy menyebutkan bahwa latihan ini secara jelas ditujukan untuk menghadapi Negeri Tirai Bambu.
Denny Roy menyatakan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh AS, Jepang, dan Filipina adalah bahwa meningkatnya sikap agresif Tiongkok telah mendorong AS dan sekutu-sekutu Asia-nya untuk memperkuat kerja sama keamanan sebagai bentuk perlawanan terhadap Tiongkok. Di sisi lain, Beijing kemungkinan akan menafsirkan langkah ini sebagai operasi bersama yang dipimpin AS dengan tujuan untuk mengurung Tiongkok di dalam rantai pulau pertama dan menekan perluasan pengaruh regionalnya.
Laporan tersebut juga mengutip Ray Powell, selaku Direktur Program SeaLight di Gordian Knot Center for National Security Innovation, Universitas Stanford, yang mengatakan bahwa dari perspektif Laut Tiongkok Selatan, tindakan agresif Beijing di kawasan ini telah mendorong terbentuknya perlawanan internasional yang terkoordinasi terhadap RRT.
Menurut Powell, strategi Manila yang secara terbuka mempublikasikan pelanggaran Beijing di Laut Tiongkok Selatan telah menciptakan transparansi dan berhasil menarik dukungan dari sekutu lama maupun baru. Hal ini mengubah posisi strategis Filipina dari “korban yang terisolasi” menjadi “mitra inti dalam perlawanan internasional yang terkoordinasi.”