(Taiwan, ROC) --- Taiwan International Ocean Forum secara resmi dibuka pada Rabu hari ini (2/7) di Taipei, yang dihadiri oleh sejumlah pakar dan akademisi dari dalam dan luar negeri. Ahli keamanan maritim Filipina, Jay Tarriela, dalam pidato utamanya menyoroti bahwa Tiongkok sebagai negara kuat tetapi justru tidak memperlihatkan teladan yang baik, malah menjadi yang pertama merusak tatanan maritim internasional.
Ia menekankan bahwa situasi ini tidak bisa ditoleransi dan mendesak semua negara untuk menghadapi masalah ini bersama-sama demi menjaga perdamaian dan stabilitas maritim.
Ocean Affairs Council (OAC) mengadakan forum selama dua hari ini di Taipei, dengan mengumpulkan para pakar dan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk membahas strategi penguatan keamanan maritim dan jalur menuju kemakmuran ekonomi biru. Hadir sebagai pembicara utama adalah Jay Tarriela, juru bicara Penjaga Pantai Laut Filipina Barat, dan Hitoshi Kikawada, anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat Jepang.
Jay Tarriela menunjukkan bahwa lebih dari 160 negara telah menandatangani Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), yang bertujuan menjaga perdamaian dan stabilitas laut internasional secara adil dan setara, mencegah negara-negara memperluas kekuatan militer mereka di laut tanpa batas dalam perebutan hak penangkapan ikan, pertambangan, atau navigasi. Namun Tiongkok secara terang-terangan meningkatkan ketegangan di laut.
Jay Tarriela mengatakan, "Invasi dan pengerahan berlebihan kekuatan maritim Tiongkok di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan bahkan Indonesia adalah ilegal dan tidak dapat ditoleransi. Prioritas saat ini adalah semua negara harus menyadari bahwa menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah penting ini adalah tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa lagi mentolerir atau mendukung negara yang mengintimidasi negara lain, mengabaikan hukum internasional, dan mencoba memaksakan kehendaknya melalui ancaman kekerasan."
Jay Tarriela menyatakan bahwa aksi militer bersenjata Tiongkok di laut telah menjadi ancaman langsung bagi mata pencaharian jutaan orang yang bergantung pada laut, termasuk para nelayan. Pengaruh Tiongkok terhadap jalur pelayaran di Selat Taiwan atau Laut Tiongkok Selatan juga dapat menyebabkan gejolak ekonomi global, misalnya jika terjadi gangguan pada distribusi minyak dan barang yang dapat menyebabkan lonjakan harga atau putusnya rantai pasokan.
Dia menunjukkan bahwa mengingat hal ini, semua negara harus bersatu dan bekerja sama, melalui berbagai mekanisme untuk memaksa Tiongkok atau negara-negara lain yang mengabaikan peraturan hukum internasional untuk mengubah perilaku mereka, misalnya melalui tekanan diplomatik, atau segera mengungkap tindakan ilegal Tiongkok, seperti selalu mempublikasikan pelanggaran dan provokasi Tiongkok saat memasuki wilayah perairan tanpa izin. Melalui peningkatan transparansi informasi, memperkuat pengelolaan kelautan, dan menjaga keamanan serta stabilitas di bidang maritim.
Jay Tarriela menekankan bahwa masyarakat internasional menghargai tatanan yang sudah dibangun dengan susah payah, dan harus dihormati oleh semua negara, baik besar maupun kecil, guna memastikan bahwa laut adalah tempat yang mengutamakan perdamaian dan kemakmuran, bukan arena yang penuh dengan persaingan dan konflik.