(Taiwan, ROC) --- Karena penjualan telur menurun di musim panas, Asosiasi Pedagang Telur Kota Taipei mengumumkan penurunan harga mendadak sebesar NT$3 per kati di tingkat produsen, dari NT$25,5 menjadi NT$22,5, untuk menyelamatkan pasar.
Harga grosir juga akan turun menjadi NT$32 mulai besok (4/7). Namun, para peternak marah karena keputusan ini dibuat tanpa koordinasi, dengan selisih harga antara produsen dan grosir mencapai NT$9. Mereka tidak hanya merugi tapi juga tidak diberitahu sebelumnya, dan meminta otoritas Fair Trade Commission (FTC) untuk menyelidiki kewajaran harga tersebut.
Lin Tian-lai (林天來), Ketua Asosiasi Pedagang Telur Kota Taipei, menjelaskan bahwa cuaca panas menyebabkan penurunan nafsu makan konsumen dan perlambatan penjualan telur. Ditambah lagi dengan masa liburan sekolah yang menghentikan program makan siang, semakin menekan permintaan pasar.
Ia menunjukkan bahwa saat ini banyak pedagang telur memiliki gudang yang kapasitasnya hampir penuh, sehingga penyesuaian harga tidak dapat dihindari.
Mereka berharap penurunan harga ini akan mendorong para peternak untuk mengurangi produksi secara sukarela dan menyeimbangkan pasokan secara keseluruhan.
Menanggapi usulan supaya pemerintah membeli kelebihan telur untuk kemudian dijadikan telur beku cair, Lin Tian-lai mengakui bahwa meskipun diproses menjadi telur cair, tetapi penjualan selanjutnya tetap akan sulit. Persoalan utamanya tetap berada pada kelebihan produksi telur.
Ia menekankan bahwa untuk menstabilkan pasar, maka pengendalian produksi adalah kuncinya, dan bukan hanya semata mengandalkan intervensi kebijakan jangka pendek.
Menurut data dari Asosiasi Peternakan Ayam yang dikutip oleh Kementerian Pertanian, jumlah ayam petelur di seluruh Taiwan saat ini mencapai 36,26 juta ekor, dengan produksi mencapai 127.000 kotak (200 telur per kotak).
Angka ini telah melampaui kebutuhan domestik harian yang sekitar 120.000 kotak.