(Taiwan, ROC) —- Harga emas pada perdagangan Senin kemarin (7/7) mengalami penurunan sebelum kemudian naik, dan sempat merosot di bawah level US$3.300 per ons. Namun, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif untuk 14 negara, harga emas mengalami rebound yang signifikan, melompat lebih dari US$40 dan ditutup pada US$3.336,30 per ons.
Dilansir dari media asing, Investing, pedagang logam, Tai Wong mengatakan bahwa rebound harga emas disebabkan oleh pengumuman tarif Donald Trump untuk 14 negara (terutama Jepang dan Korea), dengan berbagai reaksi pasar saham yang berbeda, yang menghilangkan tren penguatan US$ yang sebelumnya melemahkan harga emas.
Selanjutnya, Donald Trump mengumumkan penundaan batas waktu hingga 1 Agustus 2025 mendatang, yang berarti sebelum tanggal tersebut masih dimungkinkan untuk bernegosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat. Hal ini semakin memperkeruh situasi perdagangan dan berpotensi meningkatkan sentimen investor untuk berlindung pada emas, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan harga emas.
Selain itu, analis Zain Vawda dari OANDA MarketPulse menunjukkan bahwa data Juni yang dirilis Bank Sentral Tiongkok menunjukkan cadangan emas terus bertambah, ini adalah bulan kedelapan berturut-turut Bank Sentral Tiongkok membeli emas.
Bank of America mengungkapkan bahwa bank-bank sentral di berbagai negara sedang membeli emas untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada US$, serta untuk melindungi diri dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Tren ini diperkirakan akan berlanjut dan mendorong kenaikan harga emas.