(Taiwan, ROC)-- Belakangan ini, dunia akademik baik di dalam maupun luar negeri kerap mengalami kasus di mana orang tak dikenal menyamar sebagai media atau wadah pemikir, lalu meminta para akademisi menulis artikel mengenai hubungan Taiwan-Jepang-Tiongkok, atau mengenai arah diplomasi Taiwan-Vatikan-Tiongkok setelah terpilihnya Paus baru.
Namun setelah naskah diterima, orang-orang ini langsung menghilang. Para akademisi menganalisis bahwa karena kasus “penipuan tulisan” ini tidak melibatkan uang, dan topiknya banyak berkaitan dengan diplomasi serta politik, maka tidak menutup kemungkinan terkait dengan kerja intelijen.
E-mail Misterius, Dalang Tak Terlacak
Pada Mei tahun ini, seorang akademisi muda Taiwan yang memahami isu-isu Vatikan, Thomas Tu (凃京威), menerima e-mail yang mengatasnamakan wadah pemikir “Voice T Tank”. Mereka memintanya menulis analisis tentang hubungan Taiwan-Vatikan-Tiongkok setelah terpilihnya Paus baru. Tanpa curiga, Thomas Tu segera menulis dan mengirimkan artikelnya. Namun, setelah itu artikelnya tidak kunjung dipublikasikan sehingga ia mengirim e-mail untuk bertanya. Tapi, ia tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia kemudian menelepon “Voice T Tank” untuk mengonfirmasi hal tersebut, dan baru sadar bahwa ia telah menjadi korban penipuan tulisan. Yang lebih parah, e-mail yang digunakan penipu adalah akun email sekali pakai (disposable e-mail) sehingga sama sekali tak dapat dilacak.
Thomas Tu mengatakan, “Dia memakai Gmail. Kita semua tahu bahwa siapa saja bisa langsung membuat e-mail baru. Itu yang disebut akun sekali pakai. Dengan akun seperti ini, kita tidak bisa mengetahui siapa orang di balik layar komputer itu, atau apa tujuannya. Kita hanya bisa menebak, tapi tidak akan pernah tahu pasti.”
Kalau Bukan Soal Uang atau Penipuan Akademik, Bisa Jadi Pengumpulan Data Intelijen
Liu Wen-Bin (劉文斌), pakar operasi kognitif Tiongkok sekaligus dosen paruh waktu di Chung Yuan Christian University yang berasal dari Biro Investigasi, menganalisis bahwa penipuan seperti ini biasanya hanya melibatkan dua hal, yaitu penipuan akademik atau penipuan uang. Namun yang paling berbahaya adalah jika ini melibatkan pekerjaan intelijen dari kekuatan musuh asing. Hanya dengan dalih permintaan tulisan sederhana, informasi mendalam soal Taiwan bisa diambil semua.
Tak hanya itu, Liu Wen-Bin bahkan mengingatkan bahwa banyak badan intelijen di dunia memanfaatkan situs penerimaan tulisan untuk menyaring siapa saja yang bisa mereka dekati lebih lanjut sebagai informan.
Ia mengatakan, “Mereka memanfaatkan website (untuk mengumpulkan informasi). Intelijen di seluruh dunia pakai cara ini. Mereka membuat website dan meminta banyak orang mengirim tulisan. Dari situ, mereka tak hanya dapat informasinya, tapi juga bisa menyeleksi penulis-penulis mana yang potensial untuk kemudian dijadikan alat dalam pengumpulan data intelijen.”
Akademisi Ternama dan Akademisi Muda Sama-sama Jadi Sasaran Empuk
Liu Wen-Bin juga mencatat bahwa target favorit lembaga intelijen adalah akademisi terkenal dan akademisi muda. Karena para akademisi senior biasanya sudah berpengalaman sehingga sulit tertipu. Sebaliknya, para akademisi muda yang ingin cepat unjuk kemampuan sering tanpa sadar terjebak. Ini bukan sekadar masalah individu, melainkan sudah menyentuh ranah keamanan nasional. Karena itu, ia mengingatkan agar para akademisi memilih jurnal atau lembaga kredibel saat menerima undangan penulisan, dan selalu meningkatkan kewaspadaan.