(Taiwan, ROC) -- Musim influenza telah dimulai sejak 1 Oktober lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Taiwan mengumumkan pada 19 November, bahwa per 18 November telah ada 219 kasus berat dengan 34 kasus meninggal dunia, mencapai rekor tertinggi baru dalam 10 tahun terakhir. Juru bicara CDC, Lo Yi-chun (羅一鈞) menyampaikan, bahwa kedatangan massa udara dingin yang lebih kuat minggu depan dapat membuat epidemi influenza meningkat. Ia pun meminta lansia dan anak-anak untuk mendapatkan vaksin influenza yang didanai pemerintah secepat mungkin, mengurangi resiko penyakit berat dan kematian.
Taiwan belum memasuki periode epidemi influenza dan jumlah pasien rawat jalan maupun kunjungan darurat masih berada di titik rendah. Namun, sejak 1 Oktober hingga 18 November tahun ini, terdapat 219 kasus influenza parah, termasuk 34 kasus kematian. Jumlah ini mencapai angka tertinggi dalam 10 tahun terakhir untuk periode yang sama selama dua minggu berturut-turut. Di antara 219 kasus influenza yang parah, mayoritas adalah H1N1, 98% kasus belum menerima vaksin influenza musim ini, dan lebih dari 80% kasus memiliki riwayat penyakit kronis. Dari 34 kasus kematian, hampir semuanya terinfeksi H1N1 atau influenza tipe A dan semuanya belum menerima vaksin influenza untuk musim ini, dengan 80% memiliki riwayat penyakit kronis.
Juru bicara CDC, Lo Yi-chun menyampaikan dalam konferensi pers rutin per tanggal 19 November, bahwa karena pengaruh monsun timur laut, suhu telah turun secara signifikan. Minggu depan, udara dingin yang lebih kuat akan melanda, menurunkan suhu dan semakin besar kemungkinan virus lebih aktif. Ia mengimbau Ia mengimbau kelompok berisiko tinggi seperti lansia dan anak kecil untuk menerima vaksin influenza sesegera mungkin setelah penerapan program insentif rumah sakit kontrak pada 15 November, di mana jumlah vaksinasi untuk lansia dan anak kecil meningkat secara signifikan.
Lo Yi-chun menekankan bahwa jumlah kunjungan ke rumah sakit saat ini karena gejala flu ringan masih berada pada titik terendah sejak bulan Juli tahun ini, tanpa ada tanda-tanda peningkatan, dan jenis virus yang umum saat ini masih H1N1, yang populer pada musim panas ini, maka ada tidak ada tren peralihan strain virus dan epidemi influenza diperkirakan akan memasuki masa epidemi pada awal atau pertengahan Desember. Namun, massa udara dingin minggu depan merupakan variabel terbesar, jika terjadi lagi massa udara dingin maka hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya peningkatan penyakit pernafasan dengan berbagai variabel terkait.
Selain itu, di Keelung dilaporkan ada seorang pria yang mendapatkan vaksin COVID dan influenza pada tanggal 17 November, 1 jam kemudian mengalami angina pektoris, kemudian dilarikan ke rumah sakit dan meninggal malam harinya. Terkait dengan hal tersebut, Lo Yi-chun menyampaikan, bahwa Biro Kesehatan Keelung dan unit-unit terkait telah melakukan penyelidikan. CDC belum menerima laporan kejadian buruk akibat vaksinasi, jika terjadi maka CDC akan memberikan bantuan penuh. Namun, angina pektoris yang terjadi satu jam setelah vaksinasi biasanya tidak dianggap sebagai efek samping yang berhubungan langsung dengan vaksin, dan jaksa penuntut tidak mengesampingkan bahwa otopsi jenazah akan membantu memperjelas penyebabnya.