(Taiwan, ROC) -- Ketegangan di perbatasan antara Thailand dan Kamboja meningkat tajam, dari perang diplomatik saat ini berubah menjadi konflik bersenjata yang melibatkan serangan udara. Menurut laporan gabungan dari AFP dan Thairath, setelah saling menarik duta besar pada Rabu (23/7), kedua militer pun dilaporkan bentrok hebat pada Kamis (24/7) dini hari di wilayah perbatasan yang disengketakan.
Militer Thailand bahkan menuduh Kamboja menembakkan roket, yang menyebabkan sebanyak tiga warga sipil terluka. Sebagai balasan, Angkatan Udara Kerajaan Thailand telah mengerahkan jet tempur F-16 untuk melancarkan serangan udara terhadap pos-pos militer di dalam wilayah Kamboja.
Militer Thailand menyebut jika konflik ini bermula ketika Kamboja menembakkan dua roket BM-21 ke sebuah komunitas di Provinsi Surin, Thailand, yang menyebabkan tiga warga sipil terluka. Sebagai tanggapan, militer Thailand segera melancarkan aksi balasan dengan mengerahkan enam jet tempur F-16 dari pangkalan udara di Provinsi Ubon Ratchathani. Jet-jet tersebut menargetkan markas Brigade Infanteri ke-8 dan ke-9 milik Kamboja, dan berhasil menghancurkannya pada pukul 10:58 pagi.
Terkait penyebab konflik, kedua belah pihak saling menyalahkan. Militer Thailand mengklaim jika pasukan Kamboja lah yang terlebih dahulu mengerahkan drone pengintai, kemudian prajurit bersenjata mereka mendekati pos jaga Thailand dan melepaskan tembakan lebih dulu. Namun, Kementerian Pertahanan Kamboja membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa justru pasukan Thailand lah yang melakukan pelanggaran wilayah secara sepihak, sementara tentara Kamboja hanya menjalankan hak membela diri yang sah.
Pemicu konflik militer ini berasal dari serangkaian insiden ledakan ranjau darat yang baru-baru ini terjadi. Dalam kurun waktu satu minggu, beberapa tentara Thailand terluka atau tewas akibat menginjak ranjau saat tengah berpatroli di wilayah sengketa, bahkan salah satu di antaranya harus kehilangan satu kaki. Thailand menuding ranjau tersebut baru saja dipasang oleh Kamboja dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap “Perjanjian Ottawa”. Namun, pihak Kamboja membantah tuduhan tersebut sebagai “tidak berdasar” dan menegaskan bahwa ranjau-ranjau itu merupakan sisa dari perang masa lalu.
Seiring pecahnya konflik bersenjata, hubungan diplomatik kedua negara telah memburuk hingga titik terendah. Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh melalui jejaring media sosial telah mengeluarkan imbauan keras kepada warga Thailand di Kamboja untuk segera meninggalkan negara tersebut jika tidak ada keperluan mendesak. Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai menyebut situasi di perbatasan sebagai “sensitif” dan menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan segala upaya untuk melindungi kedaulatan negara.