(Taiwan, ROC) Menghadapi emisi karbon nol bersih pada tahun 2030, target pengurangan karbon nasional (Nationally Determined Contributions, NDC) dengan sasaran 24%±1%, akan tetapi upaya Taiwan selama lebih dari 10 tahun, hanya mampu mengurangi emisi karbon sebesar 1,8% pada tahun 2022.
Menteri Lingkungan Hidup Peng Chi-ming mengatakan, “Kami mencoba dan harus memikirkan cara penyelesaian baru, dengan lompatan baru, maka sementara ini kami memang tengah membahas, kemudian harapa kami di masa mendatang dalam beberapa bulan ke depan akan mengusulkan jalur pengurangan karbon yang lebih jelas, lebih kongkrit dan dapat diwujudkan, saya berharap bisa mencapai 24%±.1%”
Menteri Lingkupan Hidup Peng Chi-ming pada hari Kamis ini (15/8) dalam wawancara eksklusif menyampaikan, pengurangan emisi karbon sebesar 24% ± 1% pada tahun 2030 pada kenyataannya sangat sulit dan tidak dapat dicapai dengan praktik yang ada saat ini, pihaknya akan bekerja sama dengan kementerian dan komite terkait untuk melaksanakan program tahapan untuk beberapa bulan ke depan, berharap pada tahun 2030 akan mampu melampaui target, setiap pemangku kepentingan harus bertekad untuk mewujudkan sasaran ini, ketika ada tekanan baru dapat bekerja dengan baik.
Berkaitan dengan pandangan luar terkait perangkat pengurangan karbon, Peng Chi-ming mengatakan, sementara ini seluruh dunia dengan arus pemakaian energi nuklir baru, akan tetapi teknologi baru berkemungkinan pada tahun 2029, 2030 baru diluncurkan, pemerintah tidak mengesampingkan nuklir baru, apabila keamanannya tidak diragukan, bisa mengatasi masalah limbah nuklir, ditambah lagi dengan kesepakatan dari warga masyarakat , tentu akan memanfaatkan energi ini. Peng Chi-ming menekankan, energi nuklir dan energi hydrogen dan energi lainnya yang serupa, semua menjadi alternatif pilihan.
Selain itu, Menteri Lingkungan Hidup Peng Chi-ming juga menekankan, upaya beradaptasi sangat penting dalam menanggapi cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kian hari kian banyak hujan badai ekstrem, maka “upaya pencegahan bencana bukan karena akan terjadi banjir, dan penyesuaian bukan karena takut banjir”, sebagai contoh Singapura dalam menghadapi hujan lebat, mulai melakukan perubahan struktur tata kota dan bangunan, lantai 1 dijadikan sebagai tempat parkir mobil, tindakan ini adalah persiapan untuk adaptasi, agar dapat hidup berdampingan dengan bencana.