(Taiwan, ROC) -- Suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti acara Nikah Massal 2025 yang digelar pada Minggu (24/8) di Indonesia Exhibition Center, KDEI Taipei. Sebanyak 87 pasangan calon pengantin resmi melangsungkan akad nikah dalam dua kloter, masing-masing pada pukul 08:30 dan 13:00.
Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo dalam kata sambutannya pada pagi hari ini mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya peristiwa bersejarah ini. “Alhamdulillah, hari ini sangat luar biasa. Kebahagiaan bukan hanya dirasakan oleh teman-teman PMI yang menikah, tetapi juga kami di KDEI Taipei. Fasilitasi ini hadir bagi mereka yang tidak bisa pulang karena terkendala cuti atau biaya yang tinggi, sehingga pernikahan tetap dapat dilaksanakan dengan resmi dan sah,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo kemudian menambahkan jika KDEI Taipei ke depannya menargetkan pelaksanaan nikah massal setiap bulan bertepatan dengan Sunday Service, sehingga layanan ini bisa semakin luas dirasakan oleh masyarakat Indonesia di Taiwan.
Acara ini merupakan kerja sama KDEI Taipei dengan Kementerian Agama RI, difasilitasi khusus bagi pekerja migran Indonesia yang terkendala pulang ke tanah air karena cuti, dll. Dari 355 pendaftar, sebanyak 87 pasangan lolos verifikasi, pendataan, persyaratan, hingga proses wawancara yang digelar pada 19, 20, dan 27 Juli lalu. Proses verifikasi juga melibatkan orang tua atau wali calon pengantin di Indonesia untuk memastikan legalitas status para peserta.
Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo menegaskan bahwa prinsip kehati-hatian menjadi prioritas sesuai Permenag No. 30 Tahun 2024 tentang pencatatan nikah. Dirinya menekankan pentingnya legalitas pernikahan bagi WNI di luar negeri, baik sebagai bentuk perlindungan hukum maupun penguatan ketahanan keluarga.
Sebelum akad, para calon pengantin juga mengikuti Bimbingan Pra-Nikah dan Konseling Pernikahan yang diselenggarakan oleh KDEI Taipei dan Kementerian Agama RI, bersama PCINU, PCIM, Salimah, dan FORMMIT. Program ini diharapkan memberi bekal pengetahuan, mental, serta spiritual untuk membangun keluarga yang harmonis di perantauan.