(Taiwan, ROC)-- Menjelang “Parade Militer 3 September” di Tiongkok, Qi Hong (戚洪)—seorang pemuda Tiongkok yang sebelumnya pernah memproyeksikan slogan-slogan anti-Komunis di Universitas Kota Chongqing—kemarin (3/9) menyaksikan pidato Presiden Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) dari Inggris. Ia menilai pidato itu sebagai “lelucon terbesar di dunia”, karena isinya merupakan kebalikan dari kenyataan. Ia juga menyinggung maraknya kasus keracunan makanan di Tiongkok, di mana anak-anak sering memakan bahan pangan yang tercemar pupuk kimia dan pestisida. Qi menegaskan, andai saja uang untuk parade militer dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, Tiongkok akan menjadi kuat dengan sendirinya tanpa perlu teriakan slogan dari Xi Jin-ping.
Qi Hong, yang oleh netizen Tiongkok dijuluki “Pahlawan Chongqing,” pada malam 29 Agustus memproyeksikan slogan-slogan raksasa di dinding luar sebuah gedung di Universitas Kota Chongqing. Isi slogan itu antara lain: “Tanpa Partai Komunis, baru ada Tiongkok baru! Kebebasan bukanlah hadiah, melainkan harus direbut kembali!”; “Bangkitlah mereka yang enggan menjadi budak! Bangkitlah dan melawan untuk merebut kembali hak-hakmu!”; “Gulingkan fasisme merah! Tumbangkan tirani Partai Komunis!”; “Tolak kebohongan, kami ingin kebenaran! Tolak perbudakan, kami ingin kebebasan! Tirani Partai Komunis harus turun!”
Saat warga melihat slogan-slogan itu, Qi Hong sudah meninggalkan Tiongkok dan terbang ke Inggris. Aksi jarak jauh yang direncanakannya dengan cermat ini menuai banyak pujian dari warganet. Ia memang sengaja menayangkan slogan tersebut sebelum parade militer 3 September agar lebih banyak orang memberi perhatian.
Parade Militer 3 September pun resmi digelar, dengan Xi Jin-ping tampil bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dalam pidatonya, Xi mengatakan bahwa sejarah mengingatkan, kalau nasib umat manusia saling berkaitan. Hanya dengan memperlakukan satu sama lain secara setara, hidup berdampingan secara harmonis, dan saling membantu, setiap negara dan bangsa dapat menjaga keamanan bersama, menghilangkan akar penyebab perang, dan mencegah tragedi sejarah terulang kembali.
Xi juga menambahkan bahwa rakyat Tiongkok berdiri di sisi sejarah yang benar dan berada di jalur kemajuan peradaban umat manusia, tetap menempuh jalan pembangunan damai, serta bekerja sama dengan semua bangsa untuk membangun “Komunitas untuk Masa Depan Bersama bagi Umat Manusia” (Community of Common Shared Future of Humankind). Militer Tiongkok akan dengan tegas menjaga kedaulatan, persatuan, dan keutuhan wilayah negara. Mereka juga akan memberikan dukungan strategis demi mewujudkan kebangkitan besar bangsa Tionghoa, serta berkontribusi lebih besar bagi perdamaian dan pembangunan dunia.
Dalam wawancaranya dengan Rti, Qi Hong mengatakan isi pidato itu hanyalah “cuci otak” untuk rakyat Tiongkok, penuh kebohongan, berkebalikan dengan kenyataan, dan tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan.
Qi Hong mengatakan, “Ini sebenarnya untuk konsumsi domestik di Tiongkok. ‘Lihat, kita sudah kuat’. Padahal, ini hanya untuk mengalihkan kebencian. Kita ingin bangkit, tapi mereka tidak membiarkan kita bangkit. Kebangkitan apa? Revolusi Kebudayaan telah menjatuhkan moral manusia serendah hewan. Segala yang baik dan buruk di masa lalu sudah dihancurkan. Ia hanya mengulang-ulang ideologi Marxis-Leninisme. Hasilnya apa sekarang? Rakyat Tiongkok tidak bahagia, karena tidak punya iman, tidak punya moral, tidak punya apa-apa, hanya mengenal uang.”
Qi Hong juga menyebutkan bahwa pembicaraan soal “penyatuan” sudah ketinggalan zaman. Menurutnya, kalau Tiongkok bisa seperti Amerika Serikat, barulah rakyat Taiwan mungkin mempertimbangkan hidup bersama.
Qi Hong mengatakan, “Jika Anda ingin hidup dengan baik, seperti Taiwan, dan Anda bergabung dengan Amerika, saya perkirakan 60-70% rakyat Taiwan akan bersedia, bukan begitu? Kalau daratan Tiongkok di bawah Partai Komunis bisa seperti Amerika, saya yakin Taiwan pasti berkata, ‘Partai apa pun tidak masalah, mari kita hidup bersama. Saya baik-baik saja dan ingin mencontoh Anda.’ ‘Air mengalir ke tempat yang lebih rendah, manusia berjalan ke tempat yang lebih tinggi.’ Karena orang selalu mencari tempat yang lebih baik, mengejar kesetaraan dan nilai peradaban modern. Itu yang seharusnya, bukan hanya mendengar slogan kosong.”
Qi Hong menilai pidato Xi sepenuhnya tidak sejalan dengan kenyataan. Menurutnya, Xi seperti sedang berbicara pada Putin. Ia menyinggung bahwa “sekutu” yang dipilih Tiongkok justru memperlihatkan betapa rakyat hidup dalam penderitaan, tanpa tahu akan dibawa ke jurang atau neraka seperti apa.
Qi Hong menambahkan, “Ini benar-benar lelucon terbesar di dunia. Mereka hanyalah sekelompok preman, berlawanan dengan peradaban modern dan peradaban Barat, lalu terus-menerus menyebarkan ideologi mereka. Hanya karena kediktatorannya telah berhasil mengembangkan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, mereka jadi semakin sewenang-wenang.”
Ia menutup dengan mengatakan, sulit memprediksi kapan Partai Komunis akan runtuh. Di tempat yang terasa seperti terkutuk dan terus mengulang tragedi sejarah ini, harapan hanya ada jika rakyat bisa benar-benar terbangun.