(Taiwan, ROC) - Legislator dari kubu berkuasa dan oposisi telah menyambut baik dan menyampaikan tanggapan posisif atas isi artikel mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang dipublikasikan di media Inggris pada 6 Agustus, di mana ia menyatakan, "Jika konflik lintas selat pecah, saya sangat yakin rakyat Taiwan akan bangkit untuk melawan dan tidak akan berjuang sendirian."
Legislator Chung Chia-pin (鍾佳濱) dari Partai Progresif Demokratik (DPP) mengemukakan, apa yang diungkapkan Johnson menyiratkan bahwa "rakyat Taiwan akan melindungi tanah air mereka, dan negara-negara Barat akan mendukung Taiwan," dan secara tidak langsung menyampaikan komitmen aliansi demokrasi terhadap keamanan dan pertahanan Taiwan.
Chung Chia-pin mengatakan, "Saat ini (hubungan Taiwan dengan Inggris) tidak seperti hubungan Taiwan dengan AS atau aliansi keamanan regional lainnya. Oleh karena itu, pernyataan Inggris, melalui aliansi militer antara Inggris, Australia, dan AS, secara tidak langsung menyampaikan pentingnya Taiwan bagi aliansi demokrasi, termasuk AS, dan komitmennya terhadap keamanan dan pertahanan Taiwan."
Sementara itu, Legislator Lee Yen-hsiu (李彥秀) dari Partai Kuomintang (KMT) berterima kasih kepada Johnson atas dukungannya terhadap Taiwan dan menekankan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan bermanfaat bagi seluruh dunia.
Lee mengatakan, "Rakyat Taiwan bersedia berjuang untuk mempertahankan demokrasi dan kebebasan kita, serta untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat Republik Tiongkok. Tidak ada pemenang dalam perang, tidak ada pecundang dalam kedamaian. Kebajikan tidak pernah sendirian, ia akan selalu memiliki tetangga."
Menurut Lee, perdamaian di kawasan Asia-Pasifik serta kemakmuran dan stabilitas hubungan lintas Selat Taiwan merupakan manfaat mutlak bagi seluruh dunia dan merupakan kepentingan bersama negara-negara termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang.
Sebagaimana diketahui, mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang mengunjungi Taiwan pada awal Agustus, menerbitkan sebuah artikel di Daily Mail pada 6 Agustus berjudul "Saya berbicara dengan anak-anak muda Taiwan yang bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk mencegah Tiongkok mencekik jalur kehidupan teknologi Barat."
Johnson menyatakan, jika Tiongkok mengontrol Taiwan, itu sama saja dengan mencekik jalur kehidupan teknologi tinggi terpenting di abad ke-21 dan akan menembus "rantai pulau pertama" antara Jepang dan Filipina. Ia juga yakin, andaikata Tiongkok menyerang, Taiwan akan bangkit untuk melawan dan tidak akan berjuang sendirian.