(Taiwan, ROC) Dalam beberapa tahun terakhir ini, Kementerian Luar Negeri aktif melakukan interaksi kerja sama dengan Prancis pada tingkat yang lebih tinggi dan di lebih banyak bidang, dengan menitikberatkan pada "nilai diplomasi". Menlu LIn Chia-lung pada hari Kamis ini (11/9) dalam platform media sosial membeberkan kesannya tentang pemberian lencana penghargaan kepada Wakil Ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Prancis, Olivier Cadic, dan menekankan hubungan Taiwan-Prancis didasari atas saling berbagi nilai, "berharap kedua negara dapat mempertahankan nilai demokrasi yang dijaga".
Wakil Ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Prancis, Olivier Cadic mendapat lencana penghargaan, Menlu Lin Chia-lung menuliskan pujian dalam laman Facebook, memuji Olivier Cadic atas dukungannya yang tak tergoyahkan bagi Taiwan selama bertahun-tahun, meskipun mendapat tekanan dari negara adidaya. Ia juga memuji Olivier Cadic atas sikapnya yang berani dalam mendukung demokrasi dan kebebasan dalam politik Prancis, serta atas kontribusinya yang tak ternilai dalam memperdalam hubungan Taiwan-Prancis.
Mengenai pencapaian nyata Olivier Cadic, Menlu Chia-lung menunjuk, Olivier Cadic aktif dalam Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC), menjabat sebagai ketua bersama Prancis, dan memobilisasi lebih banyak anggota parlemen Prancis untuk mendukung partisipasi internasional Taiwan. Secara khusus, ia berhasil mendorong pencantuman teks kunci "Prancis akan terus mempertahankan hak kebebasan navigasi di Selat Taiwan" dalam "Undang-Undang Konstruksi Militer Tujuh Tahun Prancis tahun 2023", menjadikan Prancis negara besar pertama di dunia yang secara eksplisit mendukung kebebasan navigasi di Selat Taiwan melalui undang-undang.
Juru Bicara Kemenlu Hsiao Kuang-wei mengatakan, "menekankan Selat Taiwan adalah perairan internasional menunjukkan betapa pentingnya Prancis bagi keamanan dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik."
Olivier Cadic mengatakan bahwa penerimaan lencana tersebut melambangkan komitmen teguh Senat Prancis terhadap demokrasi. Kisah Taiwan mengajarkan dunia bahwa demokrasi bukan hanya sebuah nilai, tetapi juga kekuatan yang dahsyat untuk berinovasi. Prancis tidak akan pernah toleransi terhadap ancaman kekuatan untuk menekan supremasi hukum, dan tidak akan membiarkan supremasi menggantikan norma-norma internasional.
Lin Chia-lung yakin bahwa pernyataan Olivier Cadic mewakili suara banyak anggota parlemen Prancis dan rakyat Prancis. Karena hubungan Taiwan-Prancis dibangun di atas nilai-nilai bersama, dengan kedua negara menjunjung tinggi dan memperjuangkan demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia, ia berharap kedua negara akan bersama-sama mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang mereka junjung tinggi.