(Taiwan, ROC) - Taiwan secara aktif berupaya bekerja sama dengan negara-negara di seluruh dunia, termasuk Tiongkok, dalam memerangi polusi laut, dan berharap dapat bekerja sama menuju pembangunan laut berkelanjutan tanpa kendala politik.
Demikian ditegaskan oleh Menteri Dewan Urusan Kelautan (OAC) Taiwan, Kuan Bi-ling (管碧玲) saat menghadiri dan menyampaikan sambutan dalam pembukaan Seminar Pertukaran Internasional 2025 tentang Pengelolaan Lingkungan Laut yang diadakan di Taipei pada hari Senin.
Dihadiri oleh 27 pakar dari delapan negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan, serta 19 akademisi dari Taiwan, seminar ini akan membahas topik-topik seperti perlindungan lingkungan laut, pencegahan dan pengendalian polusi, pengelolaan limbah, kualitas air dan pemeliharaan sedimen, serta kerja sama internasional, bertujuan membangun konsensus global tentang perlindungan laut dan memperdalam kerja sama internasional.
Kuan menyatakan bahwa OAC telah menghadapi berbagai tantangan sejak didirikan tujuh tahun lalu, namun hanya dengan memperkuat kerja sama global, menerapkan tata kelola transnasional, dan memprioritaskan konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan dengan perspektif berwawasan ke depan, kita baru dapat memastikan bahwa lautan akan terus menyediakan dukungan kehidupan dan ketahanan bagi umat manusia dan planet ini.
Kuan juga menekankan bahwa wilayah maritim Taiwan memiliki kepentingan global karena pertimbangan geopolitik, maka Taiwan selalu secara aktif berupaya berkolaborasi dengan dunia dalam isu-isu keberlanjutan kelautan, dan seminar hari ini merupakan langkah krusial dalam memenuhi komitmen ini.
Kuan Bi-ling mengatakan, "Geografi Taiwan yang unik mengharuskan kerja sama internasional bahkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan pencemaran laut dan konservasi lingkungan. Limbah laut mengalir mengikuti arus laut dan tidak mengenal batas wilayah. Kita harus bertukar pendapat dan saling mempelajari mekanisme pengelolaan sumber daya, sistem tata kelola, dan kebijakan yang baik dari semua negara."
Sementara itu, Direktur Divisi Konservasi Satwa Liar Laut OAC, Lu Shiao-yun (陸曉筠) yang juga hadir dalam seminar tersebut berharap dialog profesional internasional ini tidak hanya akan membuka peluang baru bagi tata kelola laut, tapi juga melambangkan partisipasi aktif Taiwan dalam konservasi laut internasional.
Lu mengatakan, "Dalam sesi berbagi hari ini, saya akan berbagi tentang bagaimana Taiwan mengelola lingkungan laut secara komprehensif setelah disahkannya amandemen Undang-Undang Penjaga Pantai dan Undang-Undang Pengendalian Pencemaran Laut tahun lalu. Divisi kami berharap dapat meminimalkan risiko sejak awal, sebelum keadaan darurat, dalam pencegahan dan pengendalian pencemaran laut. Kami akan 200% siap jika terjadi kecelakaan atau insiden apa pun."
Dalam seminar tersebut, salah satu acara penting adalah ditandatanganinya nota kesepahaman (MOA) antara OAC dan lembaga kajian Indonesia, The Habibie Center. Dokumen kerja sama internasional pertama ini, yang melambangkan implementasi "Platform Kerja Sama Pengelolaan Sampah Laut Indo-Pasifik", akan memperdalam kemitraan antara Taiwan dan Indonesia dalam pengelolaan sampah laut dan meletakkan fondasi yang kokoh bagi pembangunan berkelanjutan di kawasan Indo-Pasifik.