(Taiwan, ROC) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif 100% terhadap barang-barang impor asal Tiongkok serta membatasi ekspor teknologi penting, yang membuat perang dagang AS-Tiongkok semakin memanas dan menambah ketidakpastian pasar. Akibatnya, dana lindung nilai mengalir deras ke pasar emas. Harga emas internasional pada hari ini (14/10) sempat menembus angka 4.150 dolar AS per ons di sesi perdagangan.
Bank of Taiwan, satu-satunya bank milik pemerintah yang menjual emas fisik di dalam negeri, menyatakan bahwa meski ada risiko kenaikan harga jangka pendek karena aksi kerja harga, tetapi investasi emas secara berkala atau untuk jangka panjang masih merupakan strategi yang wajar.
Harga emas internasional pada pekan lalu untuk kali pertama menembus batas 4.000 dolar AS per ons, dan sejak awal tahun ini telah naik hampir 60%. Namun bukan hanya emas, harga logam mulia internasional lainnya juga terus mencetak rekor baru.
Kekhawatiran terhadap menurunnya likuiditas di pasar London turut memicu lonjakan harga perak, yang pada 14 Oktober melampaui rekor tertinggi 52,5 dolar AS yang dibuat pada tahun 1980. Dalam perdagangan, harga perak bahkan sempat menembus 53 dolar AS per ons, mencapai titik tertingginya dalam sejarah.
Kenaikan tajam ini membuat sejumlah pedagang memesan kapasitas kargo jalur pelayaran Atlantik untuk mengangkut perak, merupakan jalur berbiaya tinggi yang biasanya hanya digunakan untuk pengiriman emas. Langkah ini mencerminkan optimisme kuat para pelaku pasar terhadap prospek perak, dengan harapan memperoleh keuntungan dari perbedaan harga yang terus melebar.
Manajer Departemen Logam Mulia Bank of Taiwan, satu-satunya bank milik negara yang menjual emas fisik di dalam negeri, Yang Tian-li (楊天立) pada hari ini (14/10) menyatakan, pasar emas saat ini berada dalam tren yang didorong oleh sentiment aset aman.
Menurutnya, meskipun lembaga-lembaga analisis umumnya telah menaikkan proyeksi harga emas jangka pendek dari kisaran 4.000-4.200 dolar AS per ons menjadi 4.300-4.500 dolar AS, tetapi dari sudut pandang siklus harga, emas telah memasuki fase kenaikan berlebihan. Karena itu, ada risiko koreksi harga dalam jangka pendek.
Banyak pakar juga menilai rekor baru harga emas mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap Amerika Serikat dan dolar AS. Mengenai apakah harga emas akan terus naik selama 2-3 tahun masa pemerintahan Trump mendatang, Yang menanggapi jika memang terlihat banyak bank sentral dan lembaga investasi besar tengah meningkatkan pembelian emas sebagai langkah untuk mengantisipasi fluktuasi jangka panjang dan potensi pelemahan dolar AS.
Dirinya menambahkan, dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan, tren seperti ini kemungkinan besar masih akan berlanjut.