(Taiwan, ROC) Kantor Berita Prancis, AFP melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menandatangani perjanjian kerja sama pekan ini, agar AS bisa mendapatkan rare earth (tanah jarang) dan sumber mineral lainnya Australia, beberapa mineral ini sangat penting untuk berbagai industri, mulai dari panel surya hingga rudal presisi.
CEO perusahaan tambang tanah jarang Australia - Arafura Resources, Darryl Cuzzubbo mengatakan, bahwa mengembangkan tanah jarang di luar Tiongkok jelas merupakan hal yang baik. "Tiongkok pada dasarnya mengendalikan pasar tanah jarang dengan memanipulasi harga."
Cuzzubbo mengatakan, "Masalahnya sekarang adalah Tiongkok jelas-jelas menggunakan kendalinya atas 90% kapasitas produksi tanah jarang global sebagai alat geopolitik”. Tiongkok memiliki beberapa cadangan unsur tanah jarang terbesar di dunia dan praktis merupakan satu-satunya negara yang mampu mengolah logam-logam ini dalam skala besar, yang memberinya pengaruh signifikan dalam rantai industri global.
Negara-negara manufaktur besar seperti AS, Jerman, dan Korea Selatan di masa jangka panjang mitra kerja sama yang tidak memanfaatkan tanah jarang sebagai alat tawar-menawar.
Cuzzubbo mengatakan, perjanjian kerja sama krisis mineral AS-Australia membuka jalan alternatif untuk rantai pasokan industri di luar Tiongkok.
"Hal ini juga memberi investor keyakinan bahwa negara-negara yang sepaham ini akan mengambil tindakan untuk mengubah dominasi Tiongkok," Cuzzubbo menambahkan . Intinya, AS telah setuju untuk memberikan dukungan finansial bagi sejumlah proyek pengembangan logam tanah jarang di Australia dengan imbalan akses prioritas hak penambangan.
Meskipun Australia unggul dalam penambangan mineral penting, seperti kebanyakan negara pertambangan lainnya, Australia di masa jangka panjang menghadapi kesulitan dalam pengolahan mineral. Lebih dari 90% bijih litium Australia dikirim setiap tahun ke kilang-kilang besar di Tiongkok.
Arafura Resources memiliki salah satu proyek pengembangan pertama yang menerima pendanaan dari perjanjian AS-Australia dan berencana untuk segera memperluas kapasitas penyulingannya sendiri.
Perusahaan Australia lainnya, Lynas Resources, telah mendapatkan kontrak senilai $258 juta untuk membangun kilang tanah jarang di Texas.
Cuzzubbo mengatakan, “Tiongkok terus berupaya mempertahankan keunggulannya saat ini, karena pihaknya penguasaan bidang ini akan berangsur-angsur hilang dalam waktu 3-5 tahun mendatang.”