(Taiwan, ROC) --- Setelah dua hari perdagangan yang penuh gejolak, harga emas akhirnya kembali melonjak pada Kamis (23/10), menunjukkan kenaikan lebih dari 1%. Kebangkitan ini memicu optimisme di pasar, terutama setelah bank investasi raksasa, JPMorgan Chase & Co. (JPMorgan), melontarkan prediksi berani, yakni harga emas berpotensi menembus level US$5.000 per ons pada kuartal keempat tahun 2026.
Menurut laporan media Reuters, pada 24 Oktober 2025, pukul 13:49 waktu Bagian Timur AS, harga emas spot diperdagangkan naik 1% menjadi US$4.132,76 per ons.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga menguat 2% menjadi US$4.145,60 per ons. Kenaikan ini terjadi setelah emas sempat menyentuh titik terendah dalam hampir dua minggu terakhir.
Pemicu Lonjakan dan Proyeksi Fantastis
Para analis sepakat, bangkitnya kembali risiko geopolitik menjadi katalis utama yang mendorong permintaan aset safe-haven seperti emas. Selain itu, pasar juga tengah menanti rilis data inflasi penting Amerika Serikat pada Jumat (24/10), yang diperkirakan akan memberikan arah baru bagi kebijakan moneter Federal Reserve.
JPMorgan tidak ragu memproyeksikan masa depan cerah bagi logam mulia ini, memperkirakan harga emas bisa mencapai puncaknya di US$5.055 per ons pada kuartal keempat tahun 2026.
Prediksi ambisius ini didasarkan pada dua faktor kunci yang akan menjadi pendorong utama, yakni permintaan investor yang kuat dan pembelian obligasi yang berkelanjutan oleh bank sentral dunia, dengan rata-rata sekitar 566 ton per kuartal di tahun depan.
Fundamental Emas Tetap Kuat
Sejak awal tahun 2025, harga emas telah menunjukkan performa impresif dengan kenaikan sekitar 57%. Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals, Peter Grant, menegaskan bahwa fundamental yang mendorong kenaikan harga emas tahun ini pada dasarnya tidak berubah.
"Bahkan, ketegangan perdagangan dan geopolitik mungkin sedikit meningkat, faktor-faktor ini juga mendorong kenaikan harga emas hari ini," ujarnya.
Selain ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi penurunan suku bunga juga turut menopang daya tarik emas. Pasar saat ini telah mengantisipasi penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan kemungkinan penurunan lanjutan pada bulan Desember.
Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, secara historis cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, ekspektasi ekonomi, dan dukungan dari pembelian bank sentral serta permintaan investor, prospek emas terlihat semakin berkilau.
Prediksi JPMorgan menjadi sinyal kuat bahwa logam mulia ini masih memiliki ruang untuk terus mengukir rekor baru di tahun-tahun mendatang.