Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Wabah Demam Babi Afrika Guncang Taiwan, Apakah Bisa Menular Terhadap Manusia, Otoritas Beri Jawaban

25/10/2025 18:06
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Wabah Demam Babi Afrika Guncang Taiwan, Apakah Bisa Menular Terhadap Manusia, Otoritas Beri Jawaban (CNA)
Wabah Demam Babi Afrika Guncang Taiwan, Apakah Bisa Menular Terhadap Manusia, Otoritas Beri Jawaban (CNA)

(Taiwan, ROC) --- Kabar ditemukannya kasus positif asam nukleat Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) pada seekor babi mati di sebuah peternakan di Distrik Wuqi, Taichung, telah memicu kekhawatiran publik yang meluas.

Pemerintah bergerak cepat dengan memberlakukan larangan nasional selama lima hari terhadap pengangkutan dan penyembelihan babi, serta menghentikan total penggunaan sisa makanan sebagai pakan.

Namun, pertanyaan terbesar yang kini menggema di benak masyarakat adalah, apa dampaknya bagi manusia, dan amankah daging babi yang beredar di pasaran?

Menjawab keresahan tersebut, otoritas terkait memberikan penjelasan komprehensif untuk menenangkan publik. Kementerian Pertanian dan Kantor Keamanan Pangan Yuan Eksekutif serempak menegaskan bahwa Demam Babi Afrika bukanlah penyakit zoonosis, artinya virus ini tidak menular dari hewan ke manusia dan tidak menimbulkan isu keamanan pangan bagi konsumen.

Meskipun virus ini sangat mematikan bagi populasi babi, para ahli memastikan tidak ada risiko kesehatan langsung bagi manusia yang mengonsumsi daging dari hewan yang terinfeksi.

Lebih lanjut, pemerintah menjamin bahwa setiap potong daging babi yang sampai ke pasar telah melewati sistem pertahanan berlapis yang sangat ketat.

Proses ini mencakup kewajiban adanya surat keterangan sehat dari dokter hewan sebelum pengangkutan, dilanjutkan dengan inspeksi ante-mortem (sebelum penyembelihan) dan post-mortem (setelah penyembelihan) di rumah potong hewan.

Daging yang tidak memenuhi standar kesehatan dipastikan akan dimusnahkan dan tidak akan pernah masuk ke rantai pasokan pangan.

Secara ilmiah, kekhawatiran mengenai kemungkinan penularan virus melalui feses manusia setelah mengonsumsi daging terinfeksi juga terbantahkan.

Mengutip data dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), virus ASF hanya dapat bertahan dalam rentang pH 3,9 hingga 11,5. Sementara itu, tingkat keasaman lambung manusia yang sangat kuat (pH 1,5 hingga 3,5) berada jauh di luar ambang batas toleransi virus tersebut.

Dengan kata lain, asam lambung dan enzim pencernaan manusia akan menghancurkan sebagian besar virus sebelum sempat diekskresikan.

Meski demikian, otoritas mengimbau masyarakat untuk tetap menjadi konsumen yang cerdas dan waspada. Otoritas Food and Druf Administration (FDA) mengingatkan konsumen untuk selalu memilih daging babi yang berasal dari sumber legal dan terpercaya.

Cara termudah adalah dengan mencari stempel tinta bukti lolos inspeksi sanitasi yang dicapkan pada kulit babi, atau mengenali label resmi seperti Riwayat Produksi dan Pemasaran (TAP) dan Produk Pertanian Unggulan Taiwan (CAS).

Tentu saja, praktik memasak daging hingga matang sempurna tetap menjadi kunci utama untuk menjamin keamanan dan kebersihan pangan secara menyeluruh.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah memutus rantai penularan antarhewan, yang diketahui menyebar melalui kontak langsung, sisa makanan yang terkontaminasi, serangga, serta lalu lintas kendaraan dan personel di sekitar peternakan.

Langkah-langkah darurat yang diambil bertujuan untuk melindungi industri peternakan babi nasional dari wabah yang lebih luas.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解