(Taiwan, ROC) Dokter spesialis kandungan National Taiwan University Hospital, Shih Jin-chung (施景中) mengunggah postingan dan menyebut “dirinya tertipu”, beberapa minggu yang lalu ada seorang pasien, pekerja migran hilang kontak yang menderita kelainan rahim “Placenta accreta spectrum (PAS)”, setelah ditolong akhirnya berhasil menyelamatkan ibu dan anak, akan tetapi biaya perawatan medis mencapai NT$ 1,42 juta, setelah menjalani perawatan ini, pihak yang menampung pekerja migran hilang kontak ini menolak untuk membayar semua biaya rumah sakit, membuat dokter merasa tidak berdaya, dirinya berusaha untuk menyelamatkan nyawa tapi akhirnya ia harus menanggung biaya sebesar jutaan dolar.
Dokter Shih menambahkan, pihak penampung pekerja migran hilang kontak memberitahu bahwa biaya pengeluaran jauh melampaui apa yang mereka kira, dan tidak bisa melunasi biaya perawatan ini.
Dalam postingan di laman facebooknya, pekerja migran hilang kontak ini sedang menunggu waktu pemulangan, didapati yang bersangkutan dalam kondisi hamil, saat hamil dalam usia 34 minggu baru melakukan pemeriksaan kehamilan, dikarenakan kondisi mendesak, semula direncanakan pada usia kehamilan 36 minggu baru menjalani operasi, agar bayi baru lahir tidak dihadapi risiko dirawat di ICU, akan tetapi mempertimbangkan kesehatan sang ibu, maka diputuskan untuk menjalani operasi lebih awal.
Biaya operasi ibu dan anak masing-masing mencapai N$ 920.000 dan NT$500.000, setelah pihak rumah sakit melibatkan dinas sosial untuk mengatasi masalah ini, dan pihak yayasan HAM menyampaikan hanya bisa mengeluarkan dana sebesar NT$ 80.000,-, dan menolak menanggung sisa biaya lainnya, juga tidak mengungkit cara lain atau penggalangan dana, sehingga rumah sakit terpaksa harus menanggung biaya sebesar jutaan dolar.
Meskipun demikian, dokter Shih mengaku dirinya tidak menyesal, “jika diulangi lagi, saya tetap mengutamakan menolong orang, kondisinya sangat kritis, jika bukan karena tim kami yang berpengalaman, maka operasi ini sulit berhasil.” Dalam kesempatan ini, ia juga mengingatkan, “meskipun pekerja ilegal bisa menghasilkan uang, akan tetapi tidak ada jaminan asuransi kesehatan, saat sakit, uang hasil kerjapun tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan.”