Pada Rabu pekan lalu (22/10), Ketua Umum Partai Kuomintang (KMT) yang baru, Cheng Li-wun (鄭麗文), menyatakan tidak mendukung peningkatan anggaran pertahanan hingga 5% dari PDB (Produk Domestik Bruto), dengan alasan hal ini akan menekan sumber daya untuk kebijakan lainnya.
Saat diwawancarai Selasa hari ini (28/10), Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) menegaskan kembali bahwa hanya dengan terus memperkuat kemampuan diri dalam proses menjaga kedaulatan dan keamanan negara serta memenuhi tanggung jawab perdamaian dan stabilitas regional, maka Taiwan baru dapat benar-benar bisa meraih perdamaian yang bermartabat dan permanen.
Cheng Li-wen akan resmi menjabat pada 1 November 2025 mendatang. Saat menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh Taiwan Foreign Correspondents' Club (TFCC) pada Rabu lalu (22/10), ia menyampaikan pandangannya mengenai hubungan Taiwan-AS serta hubungan lintas selat, ia dengan tegas menyatakan tidak mendukung peningkatan anggaran pertahanan hingga 5% dari PDB.
Ia berpendapat bahwa langkah tersebut akan menekan belanja untuk kebijakan lain dan kesejahteraan masyarakat, sehingga dinilai tidak rasional. Ia juga menekankan bahwa KMT harus mendorong rekonsiliasi lintas selat dan mengurangi konflik.
Saat diwawancarai hari ini, PM Cho menyatakan bahwa perdamaian harus dibangun di atas kekuatan. PM Cho mengatakan, "Saya percaya perdamaian harus didasarkan pada kekuatan, dan keadilan tidak akan sendirian. Oleh karena itu, hanya dengan terus memperkuat diri kita sendiri, dalam proses menjaga kedaulatan dan keamanan negara serta memenuhi tanggung jawab untuk perdamaian dan stabilitas regional, kita baru dapat benar-benar meraih perdamaian yang bermartabat dan permanen."
PM Cho menekankan bahwa kekuatan keadilan tidak pernah terisolasi. Taiwan telah lama menjadi mitra yang baik, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya di komunitas internasional. Ke depannya, Taiwan akan terus memperdalam kerja sama dengan negara-negara yang berpikiran sama, dan mendorong kemajuan secara menyeluruh di berbagai bidang, mulai dari perdamaian dan stabilitas regional, pembangunan ekonomi, kerja sama teknologi, hingga pertukaran budaya.
Ia menyatakan, hanya melalui upaya semacam inilah Taiwan dapat menjadi mitra yang saling percaya di dalam kubu demokrasi dunia, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perdamaian regional serta kemajuan global.