Dalam jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Komite Urusan Umum Amerika-Israel (AIPAC) pada 27 Oktober, Presiden Lai Ching-te (賴清德) menyampaikan, “peredaan”(appeasement) bukanlah solusi untuk mengekang negara otoriter. Taiwan harus melawan paksaan otoriter dengan semangat “Daud melawan Goliat”, meningkatkan investasi pertahanan dan membangun “Pertahanan Taiwan” (T-Dome), meniru Iron Dome dan Gold Dome milik Israel dan Amerika Serikat (AS). Presiden juga menekankan keinginan Taiwan untuk selanjutnya bekerja sama dengan Israel di bawah kerangka "Rencana Aksi AI" yang diusulkan oleh Presiden AS Trump.
Presiden Lai Ching-te hadir dalam acara makan malam yang diselenggarakan oleh AIPAC pada 27 Oktober. Hari ini (28/10), Kantor Kepresidenan mengeluarkan rilis pers yang menjelaskan pidatonya, Presiden terlebih dahulu menyambut kunjungan perdana delegasi AIPAC ke Taiwan. Ia menekankan bahwa para anggota delegasi tersebut terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka dari dunia politik dan bisnis Amerika Serikat, termasuk banyak teman yang untuk pertama kalinya datang ke Taiwan. Ia juga menegaskan bahwa Taiwan dan Amerika Serikat merupakan mitra yang kokoh satu sama lain, berbagi nilai-nilai demokrasi dan kebebasan, serta menyatakan harapannya agar hubungan antara Taiwan, Amerika Serikat, dan Israel dapat terus diperdalam dengan dukungan lintas partai..
Presiden juga menggunakan kesempatan penting ini untuk menyampaikan kelegaannya atas pembebasan sandera Israel. Beliau menyatakan, bahwa gencatan senjata dan pembebasan sandera baru-baru ini merupakan perkembangan paling signifikan dalam lebih dari 2 tahun terakhir, sebuah pencapaian diplomatik besar bagi Presiden Trump dan merupakan langkah signifikan terhadap perdamaian di Timur Tengah. Presiden berterima kasih kepada para anggota komite atas kontribusi mereka dalam perdamaian regional.
Presiden mengutarakan, orang-orang Yahudi, meskipun mengalami penganiayaan berulang kali, telah menjadi pilar kekuatan di seluruh dunia melalui upaya mereka yang tak tergoyahkan. Ia juga menyatakan bahwa rakyat Taiwan sering menjadikan orang-orang Yahudi sebagai panutan, tidak pernah putus asa atau patah semangat oleh keadaan sulit atau ancaman, dan melalui kerja keras mereka sendiri, telah menjadi mitra yang sangat diperlukan dalam industri teknologi tinggi global dan pengembangan AI. Ia lebih lanjut mencatat bahwa situasi internasional terus berubah. Terlepas dari jarak geografis, Taiwan, Amerika Serikat, dan Israel semuanya menjunjung tinggi keyakinan teguh pada kebebasan, hak asasi manusia, dan supremasi hukum, berdiri di garis depan melawan otoritarianisme untuk mempertahankan nilai-nilai paling fundamental peradaban.
Presiden menekankan, “peredaan” tidak akan pernah menjadi solusi untuk melawan negara-negara otoriter. Hanya konsep “membawa perdamaian sejati melalui kekuatan” dapat mengatasi berbagai perubahan dan tantangan. Ini juga merupakan moto yang telah lama dipegang teguh oleh masyarakat Taiwan, Amerika, dan Israel. Tekad dan kemampuan Israel untuk mempertahankan tanah airnya dengan teguh sangat layak menjadi acuan Taiwan. Beliau juga selalu percaya bahwa Taiwan harus melawan paksaan otoriterisme dengan semangat "Daud melawan Goliat."
Presiden menyampaikan, Taiwan akan terus meningkatkan kemampuan bela diri dan anggaran pertahanannya. Ia juga berharap agar AIPAC dapat memberikan Taiwan dukungan dan bantuan lebih lanjut. Presiden mengatakan, “di saat yang sama, kami akan meniru Iron Dome dan Gold Dome milik Israel dan Amerika Serikat untuk membangun Taiwan Shield (T-Dome), sebuah sistem pertahanan udara yang tangguh. Ke depannya, kami akan terus meningkatkan investasi pertahanan, tidak hanya memperkuat industri pertahanan dalam negeri tetapi juga terus mendatangkan senjata dan teknologi yang diperlukan dari luar negeri untuk meningkatkan kemampuan tempur kami secara keseluruhan."
Presiden juga menyampaikan bahwa, pada titik penting dalam restrukturisasi rantai pasokan global, perdagangan dan investasi merupakan bidang penting di mana Taiwan, Amerika Serikat, dan Israel dapat memperkuat kerja sama. Ia menegaskan bahwa Taiwan memiliki proses manufaktur chip canggih yang matang, dan sangat bersedia bekerja sama lebih lanjut dengan Israel di bawah kerangka “Rencana Aksi AI” yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Presiden juga berharap Taiwan dapat memanfaatkan keunggulannya sebagai pusat industri semikonduktor, menggabungkan sumber daya serta pengalaman penelitian dan pengembangan dari Amerika Serikat dan Israel, bersama-sama memperdalam kerja sama di bidang semikonduktor, teknologi informasi dan komunikasi, serta keamanan digital. Tujuannya adalah untuk bersama-sama memperluas pasar global, memperkuat ketahanan rantai pasokan, di masa depan mendorong kerja sama trilateral antara Taiwan, Amerika Serikat, dan Israel menghadirkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan.