(Taiwan, ROC) --- Gairah cinta yang dimotori oleh lonjakan dopamin di awal pernikahan ternyata memiliki masa kedaluwarsa. Setelah euforia itu memudar, banyak pasangan dihadapkan pada ujian realitas yang sesungguhnya. Fenomena psikologis ini menjadi salah satu penjelasan utama di balik data statistik yang mengkhawatirkan di Taiwan, yaitu sepertiga dari seluruh perceraian terjadi pada usia pernikahan yang belum genap lima tahun.
Menurut analisis psikiater Yang Tsung-tsai (楊聰財), tingginya angka perpisahan di fase awal pernikahan ini sangat berkaitan dengan apa yang disebut efek dopamin. Ia menjelaskan bahwa romantisme dan gairah yang membara di awal hubungan umumnya hanya bertahan selama satu hingga tiga tahun.
Setelah melewati puncak tersebut, pernikahan memasuki babak baru yang penuh tantangan, seperti tekanan membeli rumah, membesarkan anak, masalah finansial, hingga tanggung jawab keluarga besar.
"Meskipun 1 hingga 3 tahun pertama tampak seperti bulan madu, periode ini sebenarnya adalah masa kritis yang menentukan kelanggengan sebuah pernikahan," tegas Yang Tsung-tsai. Ketika kematangan psikologis dan ekspektasi masa depan antara suami dan istri tidak selaras, fondasi hubungan pun menjadi rapuh.
Data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri (MOI) melukiskan gambaran yang suram. Pada tahun 2024, sebanyak 53.469 pasangan memutuskan untuk berpisah, sebuah lonjakan signifikan dari 47.887 kasus pada tahun 2021. Angka ini mendorong tingkat perceraian kasar Taiwan ke level 2,28‰, rekor tertinggi sejak 2020 dan menempatkannya di peringkat kedua tertinggi di Asia, tepat di bawah Tiongkok.
Statistik juga menunjukkan bahwa separuh dari pernikahan yang berakhir gagal bertahan melampaui 8,3 tahun.
Lebih dari sekadar angka, fenomena ini mencerminkan pergeseran paradigma sosial yang mendalam. Profesor Luo Tsun-yin (羅燦煐) dari Institut Studi Gender Universitas Shih Hsin berpendapat bahwa masyarakat modern tidak lagi memandang pernikahan sebagai kontrak seumur hidup yang menuntut pengorbanan tanpa batas. Generasi kini lebih memprioritaskan kebahagiaan dan otonomi pribadi.
"Seseorang tidak perlu lagi mengorbankan diri demi keluarga atau anak-anak. Ketika nilai, tujuan hidup, atau kepribadian kedua belah pihak sulit diselaraskan, memilih untuk berpisah justru dianggap sebagai keputusan yang lebih dewasa," jelasnya.
Pandangan ini diperkuat oleh psikolog Chen Po-han (陳柏翰) dari Teacher Chang Foundation. Ia mengamati bahwa di masa lalu, banyak orang terjebak dalam pernikahan jam alarm, yakni menikah karena tuntutan usia atau tekanan sosial.
Namun, kini kesadaran diri semakin tinggi. Masyarakat modern lebih berani menghadapi masalah dan menghentikan kerugian (cut loss).
"Ketika pernikahan tidak lagi dapat menyelesaikan masalah pribadi, dan justru melipatgandakan tekanan, bercerai menjadi sebuah pilihan rasional untuk memulai kembali kehidupan," pungkas Chen Po-han.