(Taiwan, ROC) Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) menerima laporan dari Taiwan pada tanggal 25 Oktober 2025 yang mengonfirmasi wabah demam babi Afrika (ASF) di sebuah peternakan babi di Wuqi, Taichung. WOAH mengatakan bahwa peternakan tersebut dapat dinyatakan bebas penyakit setelah setidaknya tiga bulan disinfektan (pengawabenahan) di lokasi terinfeksi yang terakhir, wajib memenuhi persyaratan pemusnahan dan pengawasan terkait.
Menurut data registrasi, wabah dimulai pada tanggal 21 Oktober dan saat ini sedang berlangsung (on-going), ada sejumlah 301 ekor babi, mencatat 109 ekor yang berpenyakit, 106 ekor mati, dan 195 ekor dimusnahkan. Sumber infeksi saat ini belum diketahui, dan langkah-langkah pencegahan komprehensif telah diterapkan sejak tanggal 21 Oktober.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memberi kuasa kepada WOAH untuk menetapkan status "zona bebas penyakit" di berbagai negara, yang dapat digunakan sebagai acuan perdagangan. Prosedur yang berjalan bersifat atas kesediaan masing-masing, berlaku untuk 6 jenis penyakit meliputi penyakit kaki dan mulut, penyakit sapi gila (BSE), kolera babi (classical swine fever) dan lainnya.
Demam babi Afrika (ASF) tidak termasuk dalam penyakit yang disebutkan di atas, tetapi WOAH menyebut, negara-negara anggota dapat menyatakan bebas penyakit sesuai dengan prosedur operasi standar, akan tetapi jika ditemukan ada penyakit maka status bebas penyakit ini dibatalkan. Setelah menerima laporan wabah, WOAH akan mengonfirmasi, data terkait akan diperbarui setiap jam di situs resminya.
WOAH menyampaikan, “untuk memulihkan status bebas demam babi Afrika maka satu negara atau wilayah harus melakukan disinfektan di lokasi terinfeksi yang terakhir dan setidaknya 3 bulan setelah menyatakan bebas demam babi afrika”.
Namun, pendekatan ini perlu melakukan pemusnahan kemudian pengujian terhadap ternak babi, dengan kata lain ternak babi yang tidak terinfeksi ditempatkan di peternakan yang telah dibersihkan dan tetap melakukan pengawasan ketat selama dua bulan. Lebih lanjut, pengawasan harus disesuaikan dengan Terrestrial Animal Health Code dan menunjukkan hasil tes negatif.
WOAH mengatakan, berkaitan dengan demam babi Afrika, tidak ada rekomendasi frekuensi pengujian dan pengawasan yang berlaku secara universal, “standar WOAH adalah mewajibkan pengawasan berbasis risiko, penguatan pengujian klinis dan laboratorium di lokasi wabah, area sekitar, dan peternakan yang relevan secara epidemiologis, dan penyesuaian seiring dengan perkembangan situasi setempat."
Berkaitan dengan penerapan pemberian sampah sisa dapur kepada ternak, WOAH mengatakan, sesuai dengan Terrestrial Animal Health Code, sampah sisa dapur apa pun yang digunakan untuk pakan babi harus diolah menggunakan salah satu metode berikut agar dapat mematikan virus ASF.
Metode-metode ini meliputi menjaga suhu sampah sisa dapur minimal 90°C selama minimal 60 menit dilanjutnya dengan pengadukan, atau menjaga suhu sampah sisa dapur minimal 121°C dengan tekanan absolut 3 bar selama minimal 10 menit, atau cara lainnya yang setara yang dapat mematikan virus.
WOAH mendorong semua anggota untuk segera melaporkan wabah demam babi Afrika (ASF) dan berbagi informasi epidemiologi yang relevan guna mengurangi penyebaran penyakit secara global, karena "demam babi Afrika masih menjadi ancaman global."