(Taiwan, ROC) --- Sebuah unggahan di platform daring Dcard memicu perdebatan sengit mengenai tanggung jawab finansial dan pendidikan anak di tengah keterbatasan ekonomi. Seorang ibu di Taiwan mengungkapkan kepedihan hatinya setelah mendengar keluhan sang anak yang merasa malu karena gaya hidupnya jauh tertinggal dibandingkan teman-teman sebaya.
Pasangan suami istri ini menghadapi tantangan finansial signifikan dengan total pendapatan tahunan hanya sekitar NT$800 ribu. Dengan pendapatan tersebut, mereka harus menafkahi enam anggota keluarga, hidup dalam status sewa, dan tanpa kepemilikan aset besar seperti rumah atau mobil.
Meskipun berjuang keras, orang tua ini memastikan keempat anak mereka tidak kekurangan dalam hal pendidikan. Mereka menanggung penuh biaya sekolah, les tambahan, hingga tagihan komunikasi. Bahkan, anak tertua yang kini menempuh tahun kedua kuliah, harus mengajukan pinjaman pendidikan dan bekerja paruh waktu di pabrik selama liburan semester demi membantu meringankan beban keluarga.
Puncak konflik emosional terjadi ketika sang anak melontarkan keluhan yang menusuk hati orang tuanya. Anak tersebut membandingkan nasibnya dengan teman-teman yang mengendarai mobil mewah pemberian orang tua, mengenakan pakaian bermerek, berlibur ke luar negeri, dan memiliki konsol permainan terbaru seperti PS5.
"Mengapa kami hanya bisa mengenakan pakaian bekas dari sepupu, tidak pernah bepergian jauh, dan tak pernah dibelikan mainan?" tanya sang anak, seperti dikutip oleh sang ibu dalam unggahannya.
Mendengar keluhan tersebut, sang ibu merasa terpukul. Ia merasa usahanya selama ini sia-sia dan mempertanyakan apakah ia adalah orang tua yang buruk. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk anak-anak, rasanya sangat menyedihkan," tulisnya, sembari bertanya kepada warganet, "Berapa pendapatan tahunan yang dibutuhkan agar tidak dicela oleh anak?"
Unggahan tersebut segera viral dan memicu perdebatan di kalangan warganet. Satu kubu melontarkan kritik tajam terhadap keputusan pasangan tersebut untuk memiliki empat anak di tengah kondisi finansial yang terbatas.
"Dengan pendapatan NT$800 ribu, saya tidak berani punya anak satu pun. Wajar jika anak merasa seperti demikian," tulis seorang warganet.
Komentar lain yang senada menyatakan, "Jika miskin, jangan punya anak. Secara jujur, saya rasa Anda telah menghancurkan sebagian hati anak-anak."
Namun, kubu lain berpendapat bahwa akar masalah bukan terletak pada jumlah pendapatan, melainkan pada pendidikan nilai dan moral. Mereka menekankan pentingnya mengajarkan rasa syukur dan kemandirian.
"Kuncinya adalah nilai-nilai apa yang diberikan kepada anak. Jika seorang anak tidak tahu berterima kasih dan tidak bisa mengendalikan keinginan, bahkan jika kaya pun mereka akan tetap mengeluh," ujar seorang netizen. Kubu ini mendesak orang tua untuk memberikan konsep yang benar kepada anak, bahwa segala sesuatu yang diinginkan di masa depan harus diperjuangkan sendiri, bukan melalui perbandingan materialistik.