(Taiwan, ROC) Taifun Kalmaegi melanda Filipina (4/11) membawa angin kencang dan hujan deras dan menyebabkan pada bagian Tengah Filipina mengalami banjir besar, sejauh ini diprakirakan setidaknya ada 40 lebih korban yang meninggal dunia dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
Beberapa kota di Pulau Cebu terendam banjir, dari rekaman video yang disampaikan media AFP terlihat ada mobil, truk bahkan truk kontainer yang tersapu banjir.
Palang Merah Filipina (Philippine Red Cross) menunjuk, petugas penyelamat berjalan di dalam air setinggi lutut di daerah bencana, menggunakan perahu kecil untuk menyelamatkan warga, sementara pemukiman di pinggiran Kota Cebu bagian utara terendam banjir, ada yang hanya terlihat bagian atap dan lantai atas.
Untuk provinsi Cebu saja, telah dikonfirmasi ada 39 orang meninggal dunia, aparat informasi publik Cebu, Ainjeliz dela Torre- Orong memberitahu kepada media, jumlah ini belum termasuk jumlah korban meninggal dunia di ibu kota Cebu, karena perhitungan data dilakukan secara terpisah.
Di provinsi lainnya, setidaknya ada 5 korban yang meninggal dunia, termasuk seorang warga lansia tenggelam di dalam rumahnya yang terletak di Provinsi Leyte, seorang warga laki-laki tewas tertimpa pohon tumbang di Pulau Bohol.
Ahli meteorologi Charmagne Varilla mengatakan, dalam 24 jam sebelum taifun Kalmaegi mendarat, curah hujan di Cebu mencapai 183 mm, jauh melebihi rata-rata bulanan wilayah tersebut yang sebesar 131 mm.
Gubernur Cebu, Pamela Baricuatro mengatakan, “Sebelumnya Cebu tidak pernah mengalami situasinya seperti demikian sebelumnya. Awalnya kami mengira taifun lebih berbahaya, akan tetapi yang membahayakan warga adalah banjir, mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.”