(Taiwan, ROC) --- Sebuah gestur sederhana tetapi tak terduga dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terhadap Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menjadi sorotan utama di sela-sela KTT APEC.
Aksi Sanae Takaichi yang secara spontan menggeser kursinya untuk mendekati Prabowo Subianto tidak hanya mencairkan suasana formal, tetapi juga viral di media sosial sebagai simbol diplomasi ceria yang menyegarkan.
Momen tersebut terekam kamera stasiun televisi Korea Selatan, MBC, beberapa saat sebelum KTT resmi dimulai. Sanae Takaichi, yang telah duduk di kursinya, menyapa Prabowo Subianto yang bersiap duduk di kursi sebelahnya yang berjarak.
Setelah Prabowo Subianto membalas sapaan dan mulai membuka dokumen, Sanae Takaichi dengan ramah meraih mejanya dan menggeser kursinya mendekat. Keduanya pun terlibat dalam perbincangan akrab, memecah kekakuan yang biasa menyelimuti pertemuan tingkat tinggi.
Cuplikan video ini dengan cepat menyebar di platform X, memicu pujian dari warganet. "Kemampuan sosialnya benar-benar terlalu cemerlang," tulis seorang pengguna, sementara yang lain berkelakar, "MBTI-nya sudah pasti E (Ekstrovert)."
![高市早苗「滑椅子」搭話印尼總統網:社交能力太強[影] | 國際| 中央社CNA](https://imgcdn.cna.com.tw/www/webphotos/WebCover/800/20251102/1495x1120_108027082318.jpg)
Sebuah gestur sederhana tetapi tak terduga dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terhadap Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menjadi sorotan utama di sela-sela KTT APEC. Foto: CNA
Gaya diplomasi Sanae Takaichi yang hangat dan ekspresif ini dinilai para ahli sebagai angin segar, kontras dengan para pemimpin Jepang sebelumnya yang cenderung kaku. Sugiyama Shinsuke, seorang mantan diplomat senior, memuji bahasa tubuh Takaichi yang alami. Menurutnya, pendekatan ini sangat efektif untuk menunjukkan eksistensi Jepang di panggung global.
Sugiyama Shinsuke juga menyoroti momen lain saat Sanae Takaichi dan Presiden AS Donald Trump bersama-sama menegaskan kekuatan aliansi AS-Jepang, yang mengirimkan sinyal kuat mengenai komitmen Amerika di Asia-Pasifik.
Meski demikian, Sugiyama Shinsuke mengingatkan bahwa ujian sesungguhnya baru saja dimulai. "Ini bukan hanya tentang tersenyum ramah," ujarnya. "Yang lebih penting adalah membuat dunia percaya bahwa ia dapat mengambil keputusan yang benar. Selanjutnya, fokus akan beralih pada bagaimana ia mendorong substansi kebijakan yang sesungguhnya."