(Taiwan, ROC) --- Kolumnis media The New York Times, Thomas Friedman, dalam sebuah pidato virtual di Global Views Summit menyatakan era keyakinan jika AS pasti akan membela Taiwan telah berakhir setelah Donald Trump menjabat sebagai presiden.
Ia menyarankan agar Taiwan menjadikan dirinya sepeti landak, dengan menetapkan batasan yang jelas agar Tiongkok tidak berniat mengambil tindakan terhadapnya.
Pada saat yang sama, Taiwan harus menjaga kerja sama, perdamaian, bersikap rendah hati, serta terus mengembangkan keunggulan ekonomi dan teknologinya untuk sebisa mungkin menghindari keterlibatan dalam konflik.
Menanggapi hal ini, Menteri Pertahanan Nasional (MND), Wellington Koo (顧立雄) menyatakan bahwa Taiwan telah bergerak ke arah tersebut, dan penguatan kemampuan pertahanan diri merupakan konsensus antara Taiwan dengan Amerika Serikat. Ia juga menekankan bahwa menjamin perdamaian melalui kekuatan tetap menjadi arah kebijakan AS yang tidak pernah berubah.
Menteri Wellington Koo menyampaikan bahwa Taiwan sedang bergerak maju untuk mengembangkan teknologi canggih dan menjadi pemain yang tak tergantikan. Dari sisi keamanan, kemampuan penguatan pertahanan diri Taiwan juga adalah konsensus yang dimiliki bersama oleh Taiwan dengan AS.
Mengenai kasus penghindaran wajib militer oleh selebriti yang terus meluas, otoritas kejaksaan pada bulan lalu merekomendasikan supaya ancaman hukuman untuk tindakan menghalangi wamil akan dinaikkan hukumannya, dari kurungan maksimal 5 tahun menjadi maksimal 7 tahun, dan tidak dapat diganti dengan denda.
Di samping itu, salah seorang anggota Yuan Legislatif juga mengusulkan untuk mengubah usia pembebasan wamil saat ini, yakni 36 tahun, untuk menutup celah bagi mereka yang hendak menghindari masa wamil
Menanggapi hal di atas, Wellington Koo menyampaikan, terkait isu ancaman pidana bagi pihak yang hendak menghindari masa wamil, MND akan membahasnya lebih lanjut dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kehakiman dan unit terkait lainnya.