(Taiwan, ROC)- Dialog Manila 2025 tentang Laut Tiongkok Selatan memasuki hari kedua pada tanggal 6, dengan para akademisi yang berpartisipasi memfokuskan perhatian pada Selat Taiwan. Diplomat Jepang dan Jerman menekankan bahwa stabilitas di Selat Taiwan krusial bagi keamanan di kawasan Indo-Pasifik dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga perdamaian.
Dialog Manila ke-2 tentang Laut Tiongkok Selatan mengundang para pejabat diplomatik dan keamanan nasional serta akademisi dari Asia Tenggara dan kawasan Indo-Pasifik untuk berpartisipasi. Delegasi Taiwan hadir di bawah pimpinan Perwakilan Taiwan untuk Filipina Li Ting-sheng (李廷盛), dengan anggota yang mencakup personel dari Dewan Urusan Kelautan (OAC), Pusat Studi Hubungan Internasional di Universitas Chengchi Nasional (NCCU), dan Asosiasi Hukum dan Tata Kelola Kelautan Taiwan.
Dalam sesi tanya jawab, seorang akademisi Filipina mengemukakan bahwa selain ketegangan di Laut Tiongkok Selatan, Selat Taiwan di dekatnya juga menghadapi krisis, dan meminta pandangan para peserta.
Duta Besar Jepang untuk Filipina, Endo Kazuya menyatakan bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi yang baru diangkat bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 31 Oktober di sela-sela pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), dan menegaskan kembali pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan bagi seluruh kawasan dan dunia.
Kazuya mengatakan, "Saya tidak menggunakan istilah 'titik panas konflik' untuk menggambarkan Selat Taiwan, tetapi kita tetap harus memberikan perhatian besar pada isu ini. Semua pihak terkait harus bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan."
Duta Besar Jerman untuk Filipina, Andreas Pfaffernoschke, juga sepakat bahwa keamanan di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan tidak dapat dipisahkan.
Pfaffernoschke mengatakan, "Kita memiliki perjanjian keamanan dengan Filipina, tetapi tidak dengan Taiwan; ini merupakan perbedaan yang signifikan. Namun, ketika membahas keamanan dan stabilitas di Laut Tiongkok Selatan, Taiwan tentu saja salah satu isu yang terlibat. Secara geografis, Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan tidak berjauhan, dan kita harus melihat masalah ini dari perspektif regional."
Ia menambahkan bahwa kapal perang Jerman melintasi Selat Taiwan September lalu dan akan terus melakukannya di masa mendatang untuk menunjukkan dukungan terhadap Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan kebebasan navigasi.