(Taiwan, ROC) --- Di tengah amukan taifun yang ganas, Taiwan memiliki seorang penjaga sunyi yang perkasa, yaitu Central Mountain Range (中央山脈). Mitos tentang Dewa Pegunungan Pelindung Negara yang selama ini dipercaya masyarakat ternyata bukanlah isapan jempol belaka.
Pakar cuaca kenamaan Taiwan, Cheng Ming-dean (鄭明典), secara resmi pernah menegaskan bahwa keberadaan barisan pegunungan ini adalah faktor krusial yang secara dramatis mengubah nasib setiap badai taifun yang berani mendekat.
"Pegunungan itu benar-benar seperti sebuah tembok," ujar Cheng Ming-dean, memberikan sebuah analogi sederhana tetapi kuat untuk menjelaskan fenomena kompleks ini.
Ia meluruskan anggapan umum bahwa pegunungan ini hanya melindungi wilayah barat. Faktanya, bahkan wilayah timur yang menjadi garda terdepan pun turut merasakan efek perlindungannya, tergantung dari sudut datangnya taifun.
Namun, perlindungan ini tidak datang tanpa harga. Energi dahsyat yang dibawa taifun tidak serta-merta lenyap saat menabrak tembok raksasa ini. Sebaliknya, energi tersebut bertransformasi menjadi ancaman lain yang tak kalah mematikan, yaitu curah hujan ekstrem.

Ketika taifun mendekat dari timur, struktur lapisan bawahnya akan dirobek oleh puncak-puncak pegunungan yang menjulang tinggi. Foto: CWA
Sejarah telah mencatatnya dengan jelas. Taifun Herb pada tahun 1996, misalnya, dipaksa memuntahkan seluruh kekuatannya di sisi pegunungan yang menghadap angin, mengakibatkan curah hujan historis lebih dari 2.000 milimeter di Alishan.
Secara ilmiah, mekanisme pertahanan ini adalah sebuah duel dramatis antara kekuatan alam. Ketika taifun mendekat dari timur, struktur lapisan bawahnya akan dirobek oleh puncak-puncak pegunungan yang menjulang tinggi.
Proses ini secara efektif merusak mesin badai, membuatnya melemah atau bahkan memaksanya berbelok arah. Aliran udara yang terhalang juga dapat menciptakan pusat tekanan rendah sekunder, yang semakin mengacaukan jalur pergerakan taifun.

Keberadaan barisan pegunungan Central Mountai Range adalah faktor krusial yang secara dramatis mengubah nasib setiap badai taifun yang berani mendekat. Foto: CWA
Bukti paling nyata dari pengaruh topografi ini tercermin dalam data statistik yang mengejutkan. Cheng Ming-dean memaparkan probabilitas suatu wilayah untuk mencapai standar kecepatan angin yang memicu penghentian aktivitas kerja dan sekolah.
Hasilnya, Kota Taichung yang terlindung di sisi barat memiliki probabilitas kurang dari 10%, sementara Pulau Lanyu yang terbuka di lautan mencapai 100%. Bahkan Taipei, yang relatif dekat dengan pantai utara, hanya memiliki probabilitas 40%, dan angka-angka di atas semuanya terjadi berkat benteng alami ini.
![]()
Barisan pegunungan Central Mountain Range (中央山脈). Foto: WIKIPEDIA
Salah satu peristiwa yang patut menjadi studi kasus adalah saat taifun level kuat, Taifun Chanthu, menyerang Taiwan di tahun 2021.Badai taifun yang pada citra satelit tampak begitu perkasa dan mengancam akan mendarat, pada akhirnya memilih untuk menyerah dan berbelok ke utara di sepanjang pesisir timur.
Menurut Cheng Ming-dean, pergerakan Taifun Chanthu yang berubah dipengaruhi oleh kontur Central Mountai Range.
Pada akhirnya, Central Mountai Range adalah sebuah pedang bermata dua. Ia adalah pahlawan yang melindungi sebagian besar wilayah dari amukan angin taifun, tetapi pada saat yang sama, ia mengubah ancaman tersebut menjadi bencana banjir dan tanah longsor di sisi lain.