(Taiwan, ROC) – Akibat pengaruh angin Monsun Timur Laut dan pusaran luar Taifun Fung-Wong, air Sungai Mataian meluap deras. Pada Senin (10/11) sore, air dikabarkan meluap dari sisi kiri sungai yang tidak memiliki tanggul dan menerjang Desa Mingli di kawasan Wanrong. Hingga dua hari kemudian, banjir belum menunjukkan tanda-tanda surut. Seiring hujan di daerah pengunungan yang datang silih berganti, gelombang banjir terus menyerang desa tersebut.
Dari dataran tinggi di Desa Mingli pada pagi ini (12/11), terlihat aliran sungai masih sangat deras dan meluap ke arah utara sepanjang Jalan Raya No.9. Rekaman udara menunjukkan pemandangan yang mengujutkan, banyak area masih dipenuhi lumpur tebal.
Ditjen Sumber Daya Air (WRA) teruus melakukan upaya darurat untuk menahan arus air, dengan mencoba mengalihkan aliran sungai dan menempatkan sejumlah besar blok beton sebagai penahan. Namun, karena volume air yang sangat besar, pekerjaan tersebut menghadapi tingkat kesulitan tinggi. Pihak WRA juga telah memasang papan penahan air di sepanjang Jalan Raya No.9 dan beberapa lokasi lainnya guna melindungi Sekolah Menengah Pertama Wanrong, serta jalur kereta api dari dampak banjir.
WRA di bawah naungan Kementerian Perekonomian dalam laporan pagi ini kepada Pusat Penanggulangan Bencana Pusat menyampaikan jika banjir di desa Mingli, kawasan Wanrong, disebabkan oleh endapan lumpur di dasar Sungai Mataian. Akibatnya, air sungai yang meluap dari sekitar dua kilometer hulu Jembatan Mataian di sisi kiri tanpa tanggul mengalir melalui jalan pertanian menuju Desa Mingli dan Pusat Pembibitan Padi Sanhe. Sejumlah ruas Jalan Raya No.9 juga mengalami genangan air.
Kantor Kawasan Wanrong pada hari ini menunjukkan, sejak Senin (10/11) sekitar pukul 17:00 air sungai Mataian mulai meluap dari sisi utara tepi kiri dan mengalir ke Desa Mingli. Titik tersebut diduga menjadi lokasi jebolnya tanggul. Air terus mengalir ke area rendah di lingkungan keempat Desa Mingli, dan hingga kini aliran masih berlangsung. Berdasarkan perkiraan terbaru, terdapat 19 rumah beralamat resmi dan 12 bangunan tanpa alamat yang terkena dampak banjir. Semua warga telah dievakuasi tanpa laporan korban jiwa.
Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 103,5 hektare, terdiri atas 17,5 hektare tanah cadangan masyarakat adat dan 86 hektare lahan pertanian milik warga yang juga mengalami kerusakan. Wilayah ini termasuk dalam kawasan jembatan panjang, yang dulunya merupakan area pemukiman suku penduduk asli. Total 58 orang telah dievakuasi, 25 di antaranya menumpang di rumah kerabat, sementara 33 lainnya ditampung di pusat evakuasi di Aula Serbaguna SD Wanrong.