Acara bertajuk “Refleksi Kepemimpinan Nasional – Meneladani Budaya Kepemimpinan dan Menumbuhkan Rasa Nasionalisme yang Berorientasi Indonesia Emas” diselenggarakan pada 8 November 2025 di Chang Gung University, Taoyuan. Kegiatan ini digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan (PPI Taiwan) dan dihadiri oleh mahasiswa Indonesia dari berbagai universitas di Taiwan. Melalui forum diskusi ini, para pembicara dan peserta diajak merefleksikan nilai-nilai kepemimpinan nasional serta menumbuhkan semangat nasionalisme di tengah dinamika global yang terus berubah.
Acara dibuka dengan keynote speech oleh Johanes Andi Susanto, yang menekankan pentingnya saling mendukung dan membantu sesama warga Indonesia di Taiwan. Ia mengingatkan bahwa pengalaman dan ilmu yang diperoleh di luar negeri harus menjadi bekal untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa ketika kembali ke Tanah Air.
Pembicara pertama, Iman Adipurnama, membawakan materi berjudul “Refleksi Kepemimpinan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045”. Ia menyoroti perubahan paradigma kepemimpinan dari masa ke masa, mulai dari era heroisme pasca-kemerdekaan hingga zaman demokrasi yang diwarnai fragmentasi dan kepentingan pribadi. Menurutnya, kebanggaan Indonesia yang bertumpu pada kekayaan alam perlu diimbangi dengan pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Ia menekankan pentingnya karakter pemimpin yang visioner, mengambil keputusan sesuai bukti nyata, bersedia membangun institusi yang kuat, beretika, transparan, dan dapat memimpin Indonesia menuju perubahan.
Selanjutnya, Rizal Justian Setiawan membahas “Refleksi Kepemimpinan dan Nasionalisme pada Era Pemerintahan Prabowo-Gibran (2024–2025)”. Ia menilai bahwa rendahnya kualitas SDM menjadi akar dari berbagai persoalan nasional, termasuk korupsi dan rendahnya minat generasi muda terhadap politik. Ia merekomendasikan agar pemerintahan memperkuat kerja sama antarlembaga, memperbaiki komunikasi publik, serta memberi ruang bagi generasi muda untuk mengambil alih peran strategis.
Sebagai penutup, Ismah Rustam mengangkat tema “Memahami Indonesia dalam Lanskap Dinamika Politik Global dan Domestik”. Ia menyoroti pentingnya literasi dan kesadaran nasionalisme di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, demokrasi yang sehat hanya dapat tercapai jika warga negara aktif menyuarakan hak, bersikap kritis terhadap informasi, dan bijak dalam menggunakan teknologi.
Melalui sesi talkshow, para pembicara bersama peserta berdiskusi tentang budaya yang perlu ditinggalkan demi kemajuan bangsa, bentuk nasionalisme yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, serta tantangan menjaga idealisme di tengah sistem politik yang kompleks. Acara ini menjadi ruang reflektif bagi mahasiswa Indonesia di Taiwan untuk memperkuat karakter kepemimpinan dan rasa cinta tanah air dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.