(Taiwan, ROC)-- Presiden Lai Ching-te (賴清德) pada Kamis (20/11) mengunggah foto dirinya sedang menikmati sushi dan produk perikanan Jepang di media sosial, menarik perhatian berbagai media internasional. Berita dan foto tentang Presiden Lai yang makan sushi, yang diliput oleh Kyodo News, juga muncul di kereta bawah tanah Jepang. Selain itu, berita ini juga dimuat oleh media internasional seperti NHK Jepang, CBS Amerika Serikat, dan Reuters.
Pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai Taiwan telah memicu reaksi keras dari Tiongkok. Beijing dengan cepat mengambil langkah balasan, termasuk membatasi wisatawan Tiongkok ke Jepang dan kembali menghentikan impor produk perikanan Jepang.
Presiden Lai memposting di Facebook, Instagram, Threads, dan X pada 19 November, “Makan siang hari ini adalah sushi dan sup miso.” Ia juga menyebutkan bahwa menu tersebut mencakup ikan ekor kuning dari Kagoshima dan simping dari Hokkaido.
Menanggapi unggahan ini, laporan Kyodo News menyebutkan, Presiden Taiwan Lai Ching-te menunjukkan dukungannya kepada Jepang melalui konsumsi produk perikanan Jepang.
Pada papan berita Kantor Berita Kyodo di kereta bawah tanah Jepang, judulnya berbunyi “Presiden Taiwan, Makan Siang dengan Sushi untuk Mendukung Jepang”. Laporan tersebut menyebutkan, tindakan itu merupakan bentuk dukungan kepada Jepang di tengah diberlakukannya kembali larangan impor produk perikanan Jepang oleh Tiongkok.
Selain itu, anggota Majelis Tinggi Jepang, Mizuho Umemura, juga membagikan postingan tersebut di platform X. Ia menulis, “Besok saya berencana makan nasi babi kecap Taiwan dan mangga.”
Umemura juga menuliskan dalam bahasa Mandarin, “Orang yang berbudi luhur tidak akan sendirian; ia pasti memiliki sahabat di sekelilingnya. Terima kasih banyak,” sambil menyertakan emoji bendera Taiwan dan Jepang.
Unggahan Presiden Lai yang makan sushi sebagai bentuk dukungan untuk Jepang itu juga diberitakan oleh sejumlah media besar, termasuk NHK serta lima surat kabar dan stasiun TV utama Jepang, dua kantor berita utama, CBS Amerika Serikat, serta Reuters Inggris.