Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Generasi Senior Taiwan Bangkit Jadi Tulang Punggung: Terhambat oleh Prasangka Sosial

25/11/2025 15:02
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Generasi Senior Taiwan Bangkit Jadi Tulang Punggung: Terhambat oleh Prasangka Sosial (PEXELS)
Generasi Senior Taiwan Bangkit Jadi Tulang Punggung: Terhambat oleh Prasangka Sosial (PEXELS)

(Taiwan, ROC) --- Populasi pekerja paruh baya dan lansia di Taiwan kini tidak lagi terpinggirkan, melainkan telah bertransformasi menjadi kekuatan utama yang menopang perekonomian.

Di tengah laju penuaan populasi dan penurunan angka kelahiran, data dari Dewan Pembangunan Nasional (NDC) memperlihatkan sebuah realitas baru, yakni proporsi pekerja berusia 45 hingga 64 tahun telah menyentuh angka 45,5%. Proyeksi yang lebih jauh bahkan memperkirakan angka ini akan menembus 50% pada tahun 2037.

Fenomena ini menjadi solusi vital bagi industri yang dilanda krisis tenaga kerja, seperti sektor restoran. Namun demikian, potensi besar ini masih terganjal oleh dua hambatan klasik, yaitu diskriminasi usia dan tantangan daya saing.

Di balik data statistik tersebut, terdapat kisah-kisah yang menggugah. Di sebuah restoran Jepang yang sibuk, Ibu Lin, seorang wanita berusia 60-an, bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan. Ia mengantar hidangan dan menyapa pelanggan dengan keramahan yang tulus, menepis segala stereotip tentang pekerja lansia.

"Bos meminta saya untuk kembali bekerja setelah pensiun karena restoran kekurangan pekerja," ungkap Ibu Lin. Kisahnya diamini oleh rekannya yang juga berusia 65 tahun, yang kembali aktif setelah masa pensiun.

"Kata bos, jika seharian di rumah, saya bisa mudah pikun. Lagipula, restoran memang sedang butuh bantuan," tuturnya.

Realitas ini, yang didorong oleh meningkatnya harapan hidup dan kekurangan tenaga kerja yang parah, diprediksi akan menjadi pemandangan umum di masa depan.

Salah seorang pemilik restoran, kita sebut saja Mr. Lin juga mengonfirmasi tren ini. "Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda kurang bersedia mengisi posisi di industri jasa yang menuntut fisik. Karena itu, kami mengundang kembali rekan-rekan pensiunan untuk membantu," jelasnya.

Kisah di restoran Mr. Lin bukanlah hal baru, melainkan cerminan dari data statistic yang lebih besar. Proporsi kerja paruh baya dan lansia terus memperlihatkan tren peningkatan, naik dari 43,3% di tahun 2022 menjadi 44,8% di tahun 2023.

Bagi industri restoran yang mengalami kekuarangan tenaga kerja serius, ini adalah gelombang baru yang cukup menjanjikan.

Namun, di balik potensi ini, Profesor Hsin Ping-lung (辛炳隆) dari Institut Pembangunan Nasional Universitas Nasional Taiwan menyoroti bahwa industri yang menyerap tenaga kerja senior masih sangat terbatas, terkonsentrasi di sektor restoran, grosir, dan ritel. Ia mengidentifikasi dua tantangan kembar yang dihadapi pekerja lansia, yakni penurunan daya saing dan, yang lebih mengakar, diskriminasi usia.

Menanggapi fenomena ini, pemerintah Taiwan sebenarnya telah mengambil langkah legislatif dengan mengesahkan Undang-Undang Promosi Ketenagakerjaan bagi Pekerja Paruh Baya dan Lansia pada tahun 2020.

Momentum positif terlihat dari data Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) tahun 2024, yang mencatat 125.000 pekerja senior kembali ke pasar kerja, sebuah peningkatan lebih dari 30.000 orang hanya dalam setahun.

Akan tetapi, undang-undang saja tidak cukup untuk membongkar dinding prasangka yang masih kokoh di benak banyak perusahaan. Akibatnya, potensi besar dari tenaga kerja berpengalaman ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解