Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Perundungan di Sekolah Tidak Hanya Terjadi Secara Offline, Survei: 18,6% Siswa Alami Perundungan Online

26/11/2025 12:21
Penulis & Editor: K. Cynthia J.K.
(foto: Canva)
(foto: Canva)

 (Taiwan, ROC)-- Proporsi anak-anak dan remaja yang menggunakan internet semakin meningkat. Berdasarkan survei Yayasan Kesejahteraan Anak (Children Welfare League Foundation), sebanyak 84% siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)  menggunakan media sosial setiap hari. Perundungan yang sebelumnya hanya terjadi di lingkungan sekolah kini juga merambah ke dunia maya. Sebanyak 40% siswa pernah mendengar tentang perundungan online, dan 18% siswa bahkan pernah menjadi korban secara langsung.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang situasi perundungan online di kalangan pelajar, Yayasan Kesejahteraan Anak melakukan survei daring terhadap 21.539 siswa SMP dan SMA di seluruh Taiwan. Hasilnya kemudian dirangkum dalam “Laporan Survei Perilaku Sosial dan Perundungan Online Remaja 2025” yang dirilis pada 24 November.

Hasil survei menunjukkan, siswa remaja paling banyak menggunakan media sosial Instagram, TikTok, dan LINE. Dengan interaksi yang semakin terpusat di dunia maya, hampir setengah siswa membuat akun “cadangan” untuk menyembunyikan identitas asli mereka, mencerminkan keinginan mereka untuk dipahami, tapi takut terluka.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan, 40,7% siswa pernah mendengar tentang perundungan online, yang mencakup tindakan seperti mempermalukan dan mengejek teman di grup kelas (35,7%), tidak mengizinkan teman masuk ke grup (25,6%), dan mengunggah percakapan pribadi untuk dijadikan bahan tertawaan (23,4%).
Lebih jauh, 18,6% siswa mengaku pernah mengalami perundungan online, dan 7,5% bahkan mengalami lebih dari tiga bentuk serangan. Perempuan cenderung mengalami lebih banyak jenis perundungan online dibanding laki-laki.
Fenomena diamnya saksi saat terjadi perundungan juga menjadi perhatian. Survei menunjukkan, ketika melihat teman mereka dirundung, 39,4% siswa memilih tidak melakukan apa-apa. Hanya sedikit yang melakukan tindakan aktif, seperti menghibur, memberi saran kepada korban, atau meminta bantuan guru.
Perundungan online tidak hanya menimbulkan konflik batin sementara, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental jangka panjang. Survei menemukan, di antara siswa yang pernah menjadi korban perundungan online, 48,9% di antaranya mengalami kecemasan sosial atau gangguan dalam bersosialisasi, 45,4% mengalami tekanan emosional yang memengaruhi fisik seperti insomnia, sakit kepala, atau masalah pencernaan, 42,2% merasa tidak berharga atau kehilangan rasa percaya diri, dan 15,1% pernah terpikir untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Menghadapi perundungan online, Yayasan Kesejahteraan Anak mengimbau agar para korban segera mencari bantuan dan para saksi aktif memberikan bantuan ketika melihat kejadian tersebut. Orang tua dan guru juga diharapkan mendampingi anak dalam membangun kemampuan regulasi emosi dan keterampilan sosial. Sebagai panduan, orang tua dapat menerapkan “5 Langkah Pendampingan Orang Tua”, mulai dari memahami emosi anak, membantu meredakan stres, mengajarkan bahwa tidak semua orang bisa akur, membatasi waktu penggunaan media sosial, hingga mencari bantuan profesional bila diperlukan.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解