(Taiwan, ROC) --- Presiden Lai Ching-te (賴清德) menulis opini di media Amerika Serikat, The Washington Post, untuk memaparkan kepada dunia empat arah utama strategi inti Taiwan dalam menghadapi perubahan situasi keamanan regional, masing-masing memperdalam kerja sama dengan sekutu di Indo-Pasifik dan mitra global, investasi militer terbesar dalam sejarah modern, memperluas basis industri militer pertahanan dalam negeri, serta secara stabil dan teguh menjaga kedaulatan negara.
Menurut siaran pers dari Istana Kepresidenan, opini yang ditulis oleh Presiden Lai untuk The Washington Post diterbitkan pada Selasa (25/11) waktu AS. Dalam tulisan tersebut, ditekankan tekad pemerintah untuk meningkatkan anggaran pertahanan demi membela demokrasi Taiwan, termasuk akan mengajukan anggaran pertahanan tambahan sebesar US$40 miliar (sekitar NT$1,25 triliun), yang tidak hanya digunakan untuk pembelian alutsista besar dari AS, tetapi juga akan secara signifikan memperkuat kemampuan perang asimetris Taiwan.
The Washington Post, yang didirikan pada tahun 1877, adalah salah satu institusi berita Amerika Serikat yang memiliki reputasi global dan paling berpengaruh.
Istana Kepresidenan menyatakan bahwa melalui opini ini, Presiden Lai memaparkan kepada dunia strategi inti Taiwan dalam menghadapi perubahan situasi keamanan regional, menunjukkan bahwa posisi Taiwan dalam geopolitik Indo-Pasifik sedang mengalami perubahan penting, Taiwan, melalui kerja sama yang lebih aktif, investasi pertahanan yang lebih kuat, dan sikap kedaulatan yang lebih jelas, memosisikan dirinya sebagai salah satu pemelihara bersama stabilitas regional.
Isi opini tersebut dapat dirangkum dalam empat arah yang menggariskan posisi dan strategi baru Taiwan dalam kerangka keamanan. Pertama adalah memperdalam kerja sama dengan sekutu di Indo-Pasifik dan mitra global. Opini Presiden Lai dengan jelas mengungkapkan bahwa Taiwan akan terus memperdalam kerja sama keamanan dengan negara-negara demokrasi.
Presiden menekankan bahwa Taiwan dan AS, di atas fondasi kokoh yang dibangun oleh Undang-Undang Hubungan Taiwan dan Enam Jaminan, bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Pernyataan-pernyataan terkini dari Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Korea Selatan, Selandia Baru-Australia, dan G7 juga semuanya menyatakan dukungan terhadap perdamaian di Selat Taiwan. Ke depan, Taiwan akan terus memperluas pertukaran di bidang maritim, keamanan siber, ketahanan, dan bidang lainnya untuk memperkuat kerangka kerja bersama di kawasan Indo-Pasifik.
Kedua, investasi militer terbesar dalam sejarah modern Taiwan. Presiden menyebutkan bahwa anggaran pertahanan Taiwan telah berlipat ganda dalam beberapa tahun terakhir, dan tahun depan akan dinaikkan menjadi 3,3% dari PDB, dengan target mencapai 5% sebelum tahun 2030. Pada saat yang sama, pemerintah akan mengajukan anggaran pertahanan khusus yang bersejarah, sebagai simbol tekad pertahanan diri.
Ketiga, memperluas basis industri militer pertahanan dalam negeri. Presiden Lai menyatakan bahwa di masa depan, investasi pada teknologi-teknologi baru akan ditingkatkan, serta basis industri pertahanan Taiwan akan diperluas. Hal ini termasuk memanfaatkan keunggulan teknologi dan manufaktur Taiwan untuk memperkuat rantai pasokan industri pertahanan dan mempercepat penempatan sistem-sistem canggih, serta merespons ancaman-ancaman baru secara tepat waktu.
Keempat, secara stabil dan teguh menjaga kedaulatan negara. Presiden menunjukkan bahwa Taiwan berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Meskipun Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok terus-menerus mengganggu wilayah di sekitar Taiwan dan melakukan latihan militer untuk menjajaki terobosan di rantai pulau pertama, Taiwan selalu menjaga ketenangan dan stabilitas, serta dengan teguh menghadapi berbagai ancaman dan tantangan. Biaya risiko dari sebuah konflik harus selalu lebih besar daripada harga untuk mengupayakan perdamaian, dan prinsip ini tercermin dalam langkah-langkah reformasi pertahanan serta tekad yang kokoh untuk menjaga status quo di kedua sisi selat.
Sumber tersebut menyatakan bahwa prinsip Taiwan di bawah tekanan militer adalah tidak memprovokasi dan tidak mundur, serta dengan cara yang stabil menjaga status quo sambil meningkatkan daya gentar. Sikap ini memiliki makna simbolis bagi masyarakat internasional, membuat dunia luar memahami bahwa Taiwan adalah aktor yang cinta damai dan stabil.