(Taiwan) Kawasan perubahan di Tai Po, New Territories, Hong Kong terjadi kebakaran hebat pada hari Rabu ini (26/11). Api telah menjalar ke beberapa gedung apartemen dan situasinya masih sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan terbaru dari Dinas Pemadam Kebakaran, hingga pukul 19.00 waktu setempat, kebakaran ini setidaknya telah mengakibatkan 13 orang meninggal dunia (termasuk 1 petugas pemadam kebakaran) dan 15 orang luka-luka.
Sekitar pukul 15.00, ada warga yang melihat api membakar perancah bambu di salah satu gedung, karena angin kencang, menyebabkan api menjalar dengan cepat ke perancah bambu gedung-gedung lain dan memicu kebakaran di puluhan unit hunian. Ada juga warga melaporkan melihat api pertama kali muncul dari ruang sampah di salah satu gedung.
Setelah kebakaran terjadi, Dinas Pemadam Kebakaran mengerahkan sejumlah besar petugas Damkar untuk memadamkan api. Pada pukul 18.22, kebakaran di luar kendali dan menjalar dengan cepat, dilaporkan situasi kebakaran Level 5.
Media Sing Tao Daily melaporkan bahwa petugas pemadam kebakaran terus-menerus menyemprotkan air ke gedung-gedung, beberapa kali terdengar suara ledakan di lokasi. Api telah menjalar ke 7 blok gedung tetangga, termasuk Hung Tai Court dan Hong Shing Court. 2-3 gedung dilaporkan dalam kondisi paling kritis. Suhu yang sangat tinggi di lokasi membuat beberapa lantai belum bisa dijangkau oleh petugas pemadam kebakaran.
Menurut laporan, Dinas Pemadam Kebakaran telah mengerahkan 760 personel untuk upaya penyelamatan, menangani 28 korban luka, diantaranya 9 orang dinyatakan meninggal di lokasi kejadian dan 6 orang dalam kondisi parah. Kemudian, 4 orang lagi dinyatakan meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit. Dalam insiden ini, 1 petugas pemadam kebakaran gugur dan 2 orang luka-luka. Hingga saat ini, penyebab kebakaran ini belum diketahui.
Diketahui bahwa perancah bambu tradisional mudah terbakar, Pemerintah Hong Kong telah mengeluarkan peraturan bahwa mulai 21 Maret 2025, semua perancah untuk proyek konstruksi baru harus mengandung minimal 50% material logam. Namun, kebijakan ini mendapat suara protes dari kalangan industri konstruksi Hong Kong yang khawatir akan memengaruhi mata pencaharian para pekerja perancah bambu. Departemen Pengembangan Hongkong menegaskan bahwa peraturan baru ini tidak termasuk untuk pekerjaan renovasi tembok luar gedung.