Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Gelombang Dingin Ekstrem Berpotensi Terulang Tahun Ini? Pakar Ungkap Satu Kebetulan Langka  

27/11/2025 12:57
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Gelombang Dingin Ekstrem Berpotensi Terulang Tahun Ini? Pakar Ungkap Satu Kebetulan Langka (CNA)
Gelombang Dingin Ekstrem Berpotensi Terulang Tahun Ini? Pakar Ungkap Satu Kebetulan Langka (CNA)

(Taiwan, ROC) --- Pada Kamis hari ini (27/11), pengaruh monsun timur laut masih berlanjut, menyebabkan suhu udara di berbagai daerah terasa sejuk pada pagi hari, dengan suhu terendah mencapai sekitar 16C hingga 19C.

Mantan Kepala Ditjen Klimatologi Sentral (CWA), Cheng Ming-dean (鄭明典), menulis di akun media sosialnya, menyampaikan bahwa saat ini terlihat adanya fenomena konfrontasi udara dingin dan hangat di atas Kutub Utara.

Waktunya yang terlalu dini ini cukup langka, dan mengingatkannya pada gelombang dingin ekstrem di awal tahun 2016, yang saat itu menyebabkan salju turun di Kota Taipei dan banyak orang di seluruh Taiwan meninggal karena kedinginan. Situasi serupa juga pernah terjadi pada akhir tahun 2015.

Cheng Ming-dean mengamati bahwa di ketinggian sekitar 23 kilometer di atas Lingkaran Arktik, ada dua massa udara yang relatif hangat dan dingin sedang berhadapan. Saat ini, wilayah tersebut sedang dalam tahap perkembangan pusaran kutub.

Ia menjelaskan lebih lanjut, udara di sekitarnya menyusut ke dalam untuk mengisi udara yang turun, secara alami membentuk sirkulasi berlawanan arah jarum jam yang disebut pusaran kutub. Pada awal musim dingin, biasanya hanya ada satu massa udara dingin yang berputar berlawanan arah jarum jam dan mendominasi langit di atas Lingkaran Arktik.

Cheng Ming-dean menunjukkan bahwa munculnya udara hangat di lokasi perkembangan pusaran kutub pada dasarnya adalah fenomena pemanasan stratosfer kutub. Terjadinya fenomena ini sedini ini relatif jarang.

Ia kemudian teringat bahwa pada awal tahun 2016 terjadi gelombang dingin super kuat, dan pada akhir tahun 2015 terjadi fenomena pemanasan stratosfer yang lebih awal dari biasanya.

Di lain pihak, pakar cuaca Taiwan Lin Te-en (林得恩) baru-baru ini mengingatkan bahwa berdasarkan studi terbaru dari Badan Cuaca Nasional AS pada bulan November tahun ini, sejak bulan September, sinyal terjadinya La Niña menunjukkan tren penguatan.

Terutama pada Oktober hingga Desember tahun ini, kemungkinan terjadinya La Niña telah menembus angka 80%, dan kemungkinan ini akan berlanjut hingga Februari tahun 2026 dengan probabilitas di atas 50%.

Lin Te-en menekankan, ketika fenomena La Niña terjadi di musim dingin, kekuatan monsun timur laut cenderung lebih kuat dan lebih mudah bergerak ke selatan. Suhu udara dari musim dingin hingga musim semi berikutnya juga akan lebih rendah dari rata-rata iklim. Probabilitas terjadinya fenomena cold winter (musim dingin yang dingin) adalah sekitar 60%.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解