(Taiwan, ROC)-- Taiwan mencatat kasus pertama African Swine Fever (ASF), tapi hanya terbatas pada satu lokasi dan tidak terjadi penyebaran lebih lanjut. Menteri Pertanian (MOA) Chen Junne-jih hari ini (27/11) mengungkapkan, pemerintah sedang menyempurnakan tiga persyaratan utama untuk pengelolaan limbah makanan. Jika semuanya siap, Taiwan akan mengajukan permohonan kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) pada 21 Februari 2026, untuk mendapatkan kembali status sebagai negara bebas ASF. Selain itu, karena babi di Tiongkok kembali dilaporkan terinfeksi virus baru bernama Getah virus (GETV) ditambah wabah ASF di Korea Selatan juga muncul kembali, Chen Junne-jih menegaskan, Taiwan akan mempertahankan kebijakan pengendalian penyakit yang ketat untuk sementara waktu.
Wabah ASF di dalam negeri saat ini hanya terjadi di satu peternakan di Wuqi, Taichung. Pelelangan babi hidup telah memasuki minggu ketiga dan harga daging babi masih stabil. Sementara di Tiongkok, produksi babi yang melonjak akibat ekspansi perusahaan-perusahaan peternakan besar menyebabkan kelebihan pasokan, membuat harga babi anjlok hingga titik terendah dalam empat tahun. Selain itu, beberapa provinsi seperti Hebei tengah mengalami wabah GETV dengan tingkat kematian yang sangat tinggi sehingga telah menimbulkan kekhawatiran akan masuknya daging babi sakit ke pasar.
Dalam rapat Komite Ekonomi di Yuan Legislatif hari ini, Menteri Chen menyampaikan, setelah munculnya kasus ASF di Taiwan, pemerintah tetap menerapkan langkah-langkah pengendalian intensif, termasuk larangan penggunaan limbah makanan sebagai pakan babi, pengawasan ketat di perbatasan, peningkatan pemeriksaan paket kiriman, pemeriksaan X-ray 100% pada barang bawaan penumpang, serta peningkatan 20% pemeriksaan manual acak. Ia mengakui, selain virus GETV yang muncul di Tiongkok, wabah ASF juga kembali melanda Korea Selatan, sehingga membuat pekerjaan pencegahan epidemi menjadi semakin menantang.