(Taiwan, ROC) --- Di tengah duka yang menyelimuti Hong Kong pasca-tragedi kebakaran Wang Fuk Court yang telah merenggut 128 nyawa, titik terang mengenai penyebab bencana akhirnya terungkap. Pemerintah Hong Kong mengonfirmasi bahwa bukan perancah bambu yang menjadi biang keladi utama, melainkan sebuah material yang tampak sepele tetapi sangat mematikan, yakni papan busa polistirena yang digunakan untuk membungkus jendela.
Penemuan ini menggeser fokus penyelidikan dan membuka tabir bagaimana api dapat menyebar dengan kecepatan yang tak terkendali.
Sekretaris Keamanan Hong Kong, Chris Tang (鄧炳強), dalam konferensi pers pada Jumat (28/11), menjelaskan kronologi mengerikan tersebut. Berdasarkan informasi awal, api pertama kali muncul di jaring pengaman di bagian luar lantai bawah Gedung Wang Cheong.
Meskipun jaring tersebut telah memenuhi standar tahan api, tetapi percikan api yang muncul kemudian menyambar papan busa polistirena yang sangat mudah terbakar.
"Material inilah yang menjadi bahan bakar, membuat api menjalar ke atas dengan kecepatan mengerikan," ungkap Chris Tang. Papan busa yang terbakar hebat menyebabkan kaca-kaca jendela pecah, membuka jalan bagi si jago merah untuk menginvasi unit-unit apartemen dan dalam sekejap merembet ke enam gedung lainnya.
Jendela di unit Wang Fuk Court yang ditutupi oleh papan busa. Foto: Yahoo
Kegagalan Sistemik dan Perjuangan Heroik di Tengah Kobaran Api
Tragedi ini diperparah oleh kegagalan sistemik yang fatal. Direktur Departemen Pemadam Kebakaran, Andy Yeung (楊恩健), mengungkapkan fakta yang mengejutkan, yakni sistem alarm kebakaran di delapan gedung di kompleks tersebut ditemukan bermasalah.
"Saat petugas mencoba menguji alarm di lokasi, alarm tersebut tidak berbunyi," katanya, seraya menegaskan akan mengambil tindakan hukum terhadap kontraktor yang bertanggung jawab.
Kegagalan alarm ini berarti para penghuni kehilangan detik-detik berharga untuk menyelamatkan diri, sementara api terus berkobar tanpa peringatan.
Di lapangan, para petugas pemadam kebakaran menghadapi sebuah neraka yang sesungguhnya. Chris Tang menggambarkan kesulitan luar biasa yang mereka hadapi.
Perancah yang terbakar dan runtuh dari lantai atas menyumbat akses kendaraan darurat dan pintu masuk gedung. Suhu di dalam gedung mencapai lebih dari 500C, membuat setiap langkah maju menjadi perjuangan hidup dan mati. Ruang yang sempit dan barang-barang yang menumpuk di dalam unit semakin mempersulit upaya pemadaman.
"Truk tangga putar kami bahkan sulit untuk diparkir di posisi kerja yang optimal," tambah Chris Tang, melukiskan betapa kacaunya situasi saat itu.

Jendela di unit Wang Fuk Court yang ditutupi oleh papan busa. Foto: THREADS
Duka yang Tak Terhitung: Mengidentifikasi Korban dan Mencari yang Hilang
Di balik analisis teknis, terbentang tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Jumlah korban tewas kini mencapai 128 orang, termasuk seorang pahlawan, petugas pemadam kebakaran Ho Wai-ho (何偉豪). Sebanyak 79 orang lainnya terluka, termasuk 12 petugas pemadam kebakaran.
Tugas berat kini beralih ke proses identifikasi korban dan pencarian mereka yang masih hilang. Polisi menerima 467 laporan orang hilang, meskipun beberapa di antaranya merupakan laporan ganda. Dari jumlah tersebut, nasib sekitar 200 orang masih belum diketahui, sementara 89 jenazah yang telah ditemukan masih menunggu untuk diidentifikasi secara resmi.
Meskipun penyelidikan resmi masih berlangsung, termasuk menyelidiki kemungkinan adanya kelalaian seperti pekerja yang merokok di lokasi, penemuan peran sentral papan busa polistirena telah memberikan jawaban awal atas pertanyaan yang menghantui seluruh kota, bagaimana sebuah percikan api bisa berubah menjadi salah satu kebakaran paling mematikan dalam sejarah Hong Kong.