(Taiwan, ROC) --- Musibah kebakaran dahsyat yang melanda Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong pada 26 November 2025 lalu, meskipun telah dinyatakan padam, terus menyisakan duka mendalam dan mengungkap kisah-kisah memilukan.
Jumlah korban tewas telah mencapai 128 jiwa, dengan lebih dari 200 orang masih dinyatakan hilang. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring meluasnya area pencarian, menempatkan kebakaran ini sebagai yang terburuk dalam setengah abad terakhir di Hong Kong.
Tragedi ini juga menyoroti nasib para Pekerja Migran Asing (PMA) yang menjadi tulang punggung banyak keluarga di Hong Kong. Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong melaporkan bahwa dari sekitar 200 pekerja rumah tangga asal Indonesia di Wang Fuk Court, 11 di antaranya masih belum diketahui keberadaannya. Sementara itu, kelompok pekerja migran menyebutkan 19 dari 82 pekerja rumah tangga asal Filipina juga belum ditemukan.
Media sosial Threads dibanjiri dengan pesan-pesan pencarian dan ungkapan belasungkawa. Sebuah kisah yang menyayat hati datang dari seorang warganet yang semalaman memantau kabar penyelamatan temannya.
Kisah paling memilukan adalah tentang Erawati, seorang pekerja migran asal Dampit, Jawa Timur, Indonesia. Ia dipastikan tewas secara tragis dalam kebakaran tersebut.
Teman-temannya mengunggah pesan duka di internet, dan mengungkapkan bahwa Erawati meninggal dunia saat memeluk erat bayi majikannya di tengah kobaran api. Meskipun sang bayi berhasil diselamatkan, kondisinya masih kritis.
Kisah serupa datang dari Rhodora Alcaraz, pekerja migran asal Filipina, yang terjebak api bersama bayi berusia 3 bulan. Media Hong Kong AM730 melaporkan bahwa Rhodora ditemukan masih memeluk sang bayi saat petugas pemadam kebakaran menyelamatkan mereka. Rhodora kini berjuang di unit perawatan intensif, sementara bayi yang dilindunginya dalam kondisi relatif stabil.
Penyelidikan awal oleh Kepolisian Hong Kong dan Komisi Independen Anti Korupsi (ICAC) menunjukkan bahwa api diduga menyebar cepat dari jaring pengaman dan papan busa polistirena di lantai bawah gedung, menyebabkan beberapa bangunan terbakar secara bersamaan. Delapan orang, termasuk kontraktor, konsultan proyek, dan subkontraktor perancah, telah ditahan terkait insiden ini.
Tragedi Wang Fuk Court tidak hanya meninggalkan jejak kehancuran fisik, tetapi juga luka mendalam bagi keluarga korban dan komunitas pekerja migran, yang kini dengan cemas menanti kabar dari kerabat mereka yang hilang.