(Taiwan, ROC) --- Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional (NSC), Lin Fei-fan (林飛帆) pada Selasa kemarin (2/12) menerima wawancara eksklusif dengan Radio Taiwan Internasional (Rti) menyatakan bahwa tiga tahapan tujuan penguatan pertahanan yang diajukan Presiden Lai Ching-te (賴清德) dalam Rencana Aksi Keamanan Nasional untuk Melindungi Demokrasi Taiwan, bukanlah sekedar spekulasi.
Rencana tersebut merupakan hasil penilaian presisi yang didasarkan pada informasi intelijen dari pejabat tinggi dan wadah pemikir utama Amerika Serikat, dinamika militer regional, serta ritme pembangunan dan kesiapan tempur angkatan bersenjata saat ini.
Menghadapi ancaman Tiongkok dan kebutuhan membangun kekuatan tempur kunci untuk merespons bentuk peperangan masa depan, Kepala Negara baru-baru ini mengajukan Rencana Aksi Keamanan Nasional untuk Melindungi Demokrasi Taiwan, serta anggaran khusus pertahanan mencapai NT$1,25 triliun.
Presiden Lai juga menambahkan bahwa Beijing menargetkan penyelesaian persiapan unifikasi paksa Taiwan pada tahun 2027. Oleh karena itu, Taiwan berharap dapat mencapai kemampuan kesiapan tempur tinggi dari pasukan operasi gabungan sebelum tahun 2027, guna menangkal ancaman Tiongkok secara efektif.
Selanjutnya pada tahun 2033, Taiwan menargetkan pembangunan kekuatan pertahanan yang sangat tangguh dengan daya tangkal menyeluruh, di mana tujuan akhirnya adalah membangun kekuatan pertahanan nasional yang mampu melindungi demokrasi Taiwan secara permanen.
Dalam wawancara tersebut, Lin Fei-fan menyebutkan, tahun 2027 telah lama menjadi tahun kunci yang berulang kali diingatkan oleh pejabat tinggi dan lembaga pemikir Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan berbagai informasi intelijen, termasuk dari Komando Indo-Pasifik, menunjukkan bahwa Presiden Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) telah memerintahkan Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) untuk memiliki kemampuan melakukan operasi militer terhadap Taiwan sebelum tahun 2027. Ia menjelaskan bahwa ini adalah titik waktu pembentukan kemampuan, yang tidak serta merta berarti aksi militer pasti akan terjadi pada saat itu.
Namun, Taiwan harus memastikan dirinya memiliki kekuatan penangkal yang memadai sebelum Tiongkok memiliki kemampuan tersebut.
Lin Fei-fan menunjukkan bahwa penetapan target peningkatan kapasitas kesiapan tempur tinggi Taiwan sebelum tahun 2027 bertujuan agar Beijjng menyadari dengan jelas bahwa setiap tindakan gegabah akan memakan biaya yang sangat mahal.
Semakin matang persiapan Taiwan, semakin besar kemampuan untuk menunda, bahkan mencegah pihak lawan mengambil keputusan untuk menyerang.
Ia mengatakan, “Jika pada tahun 2027, kita dapat dengan cepat mengejar kapasitas kesiapan tempur kita sendiri, mampu dengan cepat mengimbangi ambisi lawan yang ingin menginvasi Taiwan, dan jika di antara kedua belah pihak, dengan asumsi kita mampu membangun daya tangkal yang efektif, hal ini dapat dicapai sebelum tahun 2027, maka kita akan lebih mampu menunda. Pada dasarnya, ini tentang bagaimana kita menunda waktu mereka dalam mengambil keputusan, membuat mereka sadar bahwa jika hendak melakukan operasi militer terhadap Taiwan, mereka harus membayar harga yang sangat mahal.”
Lin Fei-fan juga menyebutkan bahwa dalam sidang dengar pendapat Kongres AS, mantan Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Keamanan Indo-Pasifik, Randy Schriver, juga pernah menyoroti tiga titik waktu kunci, masing-masing 2027, 2035 dan 2049, yang semuanya dipandang AS sebagai momen krusial dimana PKT mungkin mengambil tindakan militer.
Ia menyatakan bahwa ketika Taiwan mengevaluasi kapasitas kesiapan tempurnya sendiri, maka kerangka waktu harus diperhitungkan dengan lebih rinci. Oleh karena itu, dalam perencanaan anggaran khusus pertahanan, dimulai dari tahun 2026, digunakan periode 8 tahun untuk membangun kemampuan militer secara keseluruhan.
Lin Fei-fan menekankan bahwa banyak proyek pembangunan militer tidak dapat diselesaikan dalam sekejap mata dan harus didorong secara bertahap. Oleh karena itu, tahun 2033 dipandang sebagai titik waktu penting untuk meninjau kembali hasil pembangunan militer secara keseluruhan.