(Taiwan, ROC) --- Peraturan anggaran khusus pertahanan senilai NT$1,25 triliun yang diajukan oleh Yuan Eksekutif telah diblokir secara bersama-sama oleh partai oposisi. Presiden Lai Ching-te (賴清德) pada Selasa kemarin (2/12) saat menerima delegasi Asosiasi Taiwan Amerika Utara, menyatakan bahwa menghadapi ancaman Tiongkok terhadap Taiwan yang kian meningkat, Taiwan harus menaikkan anggaran militer agar memiliki kekuatan untuk menahan serangan lebih lanjut dari Tiongkok.
Namun, partai oposisi bersiap menempuh jalan lain, yakni menerima tuntutan Tiongkok, yang di masa mendatang dikhawatirkan akan menjadi patriot memerintah Taiwan. Kepala Negara menekankan bahwa misinya adalah memastikan keamanan Taiwan, agar generasi mendatang dapat hidup berkelanjutan di Taiwan.
Pada Selasa kemarin (2/12), Presiden Lai menerima kedatangan Delegasi Asosiasi Taiwan dari berbagai wilayah di Amerika Utara kembali ke Taiwan. Kepada para delegasi, Beliau menjelaskan arah kebijakan dan pencapaian pemerintah, serta menekankan bahwa sebagai presiden, ia memiliki tiga misi utama, masing-masing membuat negara lebih aman, mengembangkan ekonomi dan mengurus rakyat.
Menghadapi Peraturan Anggaran Khusus Pertahanan senilai NT$1,25 triliun yang diajukan Yuan Eksekutif yang kemudian ditolak oleh partai oposisi dan ditunda pencatatannya di Yuan Legislatif, Presiden Lai menyampaikan bahwa di era mantan Presiden Ma Yin-jeou (馬英九), ada anggapan bahwa selama anggaran pertahanan tidak ditambah, maka akan mendapatkan respons itikad baik dari Tiongkok. Namun, dilihat dari sudut pandang hari ini, situasi tersebut tidak terjadi.
Presiden menunjukkan bahwa selama masa jabatan Ma Ying-jeou, anggaran pertahanan terus berkurang, bahkan tidak sampai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebaliknya, anggaran militer Tiongkok justru terus meningkat selama 8 tahun pemerintahan mantan Presiden Ma, dan ancaman terhadap Taiwan semakin kuat.
Strategi baru berubah setelah mantan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) menjabat, di mana anggaran pertahanan ditingkatkan menjadi 2,4% hingga 2,5% dari PDB, atau dengan kata lain tumbuh lebih dari setengahnya.
Presiden menyatakan, menghadapi ancaman Tiongkok, Taiwan harus teguh pada prinsip dan tidak boleh melepaskan kedaulatan. Untuk itu, Beliau baru-baru ini mengajukan anggaran khusus pertahanan sebesar NT$1,25 triliun yang akan diinvestasikan dalam 8 tahun, guna memperkuat kemampuan tempur dan membangun perisai Taiwan, untuk menahan serangan lebih lanjut dari Tiongkok.
Namun, partai oposisi justru bersiap menempuh jalan lain, yakni menerima tuntutan Tiongkok dan menerima Konsensus 1992 yang berprinsip Satu Tiongkok.
Presiden mengatakan, Pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa apa yang disebut Konsensus 1992 versi Taiwan adalah Satu Negara Dua Sistem. Di masa depan, ini akan menjadi patriot memerintah Taiwan, kondisi ini sama seperti yang terjadi di Hong Kong.
Hal ini berarti, untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Legislatif Hong Kong, harus mendapat persetujuan Tiongkok. Harus calon yang mereka pilih yang boleh ikut pemilihan. Jika Taiwan menempuh jalan seperti Hong Kong, maka pencapaian demokrasi yang telah dibangun di masa lalu akan sangat disayangkan.